Jumat, 04 September 2015

PROLOG


Prolog

 "Kau akan mengingat pentingnya misimu? Dan fakta bahwa semua vampir bergantung kepadamu?" tanya vampir tinggi berwajah cekung itu, ekspresi dinginnya mencela.

Ekspresi itu sudah biasa dihadapi oleh Lucien Valin. Faktanya, ia menoleransi ketidaksukaan yang terang-terangan secara biasa-biasa saja.

Tidak seperti saudara-saudaranya, ia tidak suka menghabiskan hari-harinya dengan membaca buku-buku apak dan merenungkan filosofi para tetua. Ia tidak ingin memperdebatkan kodrat kehidupan. Apa gunanya memahami hidup kalau tidak diperkenankan menikmatinya sepenuhnya?

 Kegemaran itulah yang telah berkali-kali menyeretnya ke dalam masalah. Dan bahkan menggiringnya ke hadapan Dewan Agung pada suatu peristiwa yang berkesan.

Vampir bisa menjadi makhluk yang tak berselera humor jika kedamaian menjemukan mereka terusik, ia terpaksa mengakuinya. Apalagi ketika ia mentransformasi perpustakaan menjadi harem. Dewan Agung tidak menyukai ulahnya.

Kini Lucien berusaha untuk terkesan tunduk sewaktu ia membungkuk rendah-rendah. "Aku memahami pentingnya misiku, Valkier," gumamnya. 

"Tabir tidak boleh dibiarkan runtuh,"lanjut vampir yang lebih tua dengan nada yang menyeramkan."Sudah cukup kacau kalau Tristan, Amadeus, dan Drake berhasil memasuki dunia manusia demi mencuri Medalion. Jika mereka mendapatkan artefak kuno itu, kekuatan yang mampu mereka kerahkan dapat menimbulkan dampak yang tak terkira."

Lucien mengangguk, ekspresinya menjadi muram dan asing.

Ia sangat syok tatkala dipanggil menghadap Dewan Agung dan diberitahu tentang para vampire yang berkomplot untuk memusnahkan Tabir.

Sudah dua abad berselang sejak vampir berjalan diantara makhluk fana. Dengan kearifan tak terbatasnya, Nefri yang Agung, pemimpin segala vampir, menggunakan Medalion untuk menciptakan suatu Tabir yang melindungi vampir dari dunia manusia, dan dari kutukan rasa haus akan darah yang menghantui mereka dengan hasrat menggebu akan darah manusia. Suatu hasrat yang menjadikan mereka rentan terhadap sinar matahari.

Sudah dua abad mereka hidup dalam damai.

Kedamaian yang terancam oleh para penghianat licik itu.

"Aku  tidak akan gagal"

"Kau tidak boleh gagal." Ekspresi frustasi yang mengejutkan membuat wajah tegas Valkier menegang. "Sayangnya tugas kita dipersulit oleh keputusan Nefri untuk memecah Medaliondan menyerahkannya ke tangan wanita-wanita fana itu. Kau harus melindungi wanita itu sekaligus mencari para vampir yang memburunya. “ Lucien agak penasaran mendengar nada mencela Valkier. Nefri yang Agung telah bertindak waspada dengan mengikat kepingan-kepingan Medalion dengan jiwa gadis-gadis fana itu. Para penghianat tidak bisa merampas atau memaksa wanita-wanita itu untuk menyerahkan karunia mereka, dan kematianpun tidak sanggup memutus ikatannya. Satu-satunya cara untuk memperoleh Medalion adalah bila artefak tersebut diberikan secara cuma-cuma. Dan sebagai tindakan pencegahan tambahan , Nefri sudah meminta agar tiga orang vampir diutus untuk menjaga Medalion, bahkan jika itu berarti kematian bagi para penghianat.

Jauh lebih bijaksana ketimbang berharap dapat menyembunyiksn artefak kuno tersebut atau menghadapi para pemberontak itu sendiri, pikir Lucien.

 “Dengan senang hati aku akan melindungi gadis itu,” sahut Lucien tenang.

Ekspresi menghina yang dingin kembali ke wajah cekung Valkier. “Aku yakin itu. Kau memiliki kegemaran yang menyedihkan terhadap makhluk fana, terutama makhluk fana perempuan.”

Lucien mengangkat bahu. “Mereka makhluk yang mengagumkan.”

“Mereka lemah, impulsive dan bengis, tidak lebih. Mereka berhasil bertahan hidup hanya karena mereka berkembang biak seperti belatung.” Lucien tidak dikejutkan oleh kejijikan sengit Valkier. Sebagai makhluk abadi, tidak mengheran jika vampire memandang rendah makhluk fana yang hina. Hanya segelintir vampire yang memiliki kekaguman yang sama dengan Lucien terhadap hasrat dan semangat menggebu manusia akan kehidupan. Sebagaian besar saudaranya memilih untuk mengabaikan eksistensi mereka.

Tentu saja ada beberapa vampire, seperti para pemberontak, yang meyakini bahwa makhluk fana tidak lebih dari sekedar budak yang ditujukan untuk memuasakan rasa lapar vampire.

Enggan memulai perdebatan sia-sia dengan sang tetua yang berkuasa, Lucien pun membungkuk.

            “Sebaiknya aku berangkat. Gideon dan Sebastian pasti sudah menungguku.”

            “Kau membawa belatinya?”

            Lucien mengangguk dengan berat hati.

Belati ampuh itu telah dimantrai dengan sihir yang dapat membinasakan vampire. Ia sungguh berharap ia tidak perlu menggunakan senjata tersebut. Membayangkan dirinya membinasakan salah seorang saudaranya saja sudah membuatnya bergidik ngeri.

            “Aku sudah siap,” gumam Lucien.

“Aku sungguh berharap begitu, Lucien,” sahut Valkier. “Kalau pilihan berada di tangan Dewan Agung , kau tidak akan meninggalkan Tabir. Kau sombong, tidak bertanggung jawab, dan sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk memahami ancaman besar yang kita  hadapi. Hanya aku yang menyanggah anggota Dewan yang lain. Aku, mungkin dengan tololnya, percaya bahwa kekagumanmu yang tidak pantas terhadap manusia akan menjadi asset dalam tugasmu. Aku hanya bisa berharap agar kau tidak terlalu menyalahgunakan kepercayaaanku.”

Lucien tidak sanggup menahan dorongan untuk membungkuk dengan niat mencomooh. “Kepercayaanmu meningkatkan kepercayaan diriku seperti biasa. Aku hanya bisa berharap aku mampu memenuhi harapanmu yang tinggi.”

            “Pergilah!”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar