BAB I
BAB 1
Walaupun belum pernah bertemu dengan iblis. Miss Jocelyn Kingly cukup culup yakin makhluk itu tengah duduk di ruang depannya.
Bukan penampilan pria itu yang mengingatkannya kepada Penguasa Neraka, Jocelyn mengakui dengan segan.
Malah, pria itu bisa menjadi malaikat yang dikasihi dengan rambut ikal panjang kuning kecoklatan yang membingkai wajahnya ramping serta menyapu bahu bidangnya. Matanya berwarna emas murni dan cemerlang dengan bulu mata hitam panjang yang akan membuat wanita mana pun menggertakkan gigi saking irinya. Wajahnya dipahat dengan keindahan maskulin yang halus.
Namun tidak ada yang menyerupai malaikat dari kilat geli bejat yang nyata pada mata menawannyadan lengkungan sensual pada bibir ranum itu.
Dan tentu saja, pesona yang tak senonoh pada lesung pipi yang dalam itu.
Seharusnya Jocelyn langsung mengusir si iblis begitu pria itu tiba di ambang pintu rumahnya. Seharusnya tidak sedetikpun ia mempertimbangkan gagasan unutk mempersilahkan masuk seorang pria yang sedemikian meresahkan ke rumahnya.
Ia pasti sudah gila.
Saat pertama kali ia mendapatkan ide untuk menyewakan lotengnya, ide tersebut disertai oleh harapan akan seorang penyewa yang tenang dan menentramkan.
Seorang yang tidak akan mengusik kedamaian rumahnya.
Sayangnya hanya sedikit penyewa tenang dan menentramkan yang mau tinggal di lingkungan yang berdekatan dengan rumah-rumah bordil. Para pencopet dan pelacur lokal tidak punya uang untuk membayar sewa, bahkan kalau Jocelyn mau mengizinkan mereka masuk ke rumahnya sekalipun. Dan segelintir pria yang berbisnis di tempat itu sudah memiliki properti sendiri, biasanya jauh dari St. Giles.
Berarti tinggal Lucien Valin.
Jocelyn bergidik ngeri.
Andai saja ia tidak sangat membutuhkan uang. Anda saja ia tidak harus menunggu sampai dua bulan penuh untuk menerima tunjangan tiga bulannya.
Andai saja........
Bibir Jocelyn berkedut masam. Ia bisa menghabiskan dua minggu ke depan dengan membuat daftar "andai saja" dalam hidupnya. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk kerinduan sia-sia semacam itu.
Lebih dari siapa pun, Jocelyn mengerti kalau kesalahan masa lalu tidak bisa dirubah. Kita hanya bisa memastikan kesalahan-kesalahan tersebut tidak terulang.
Tanpa sadar menegakkan badannya, Jocelyn memaksakan diri untuk menatap mata keemasan yang tajam itu. Tidak mengejutkan rasanya mendapati bibir tamunya berkedut seakan pria itu terhibur oleh kebimbangannya yang kentara jelas.
"Jadi Miss Kingly, apa surat kabarnya keliru?" tanya Mr. valin dengan suara parau yang beraksen samar. "Kau punya ruangan untuk disewakan atau tidak?" Suara iblis. Jocelyn menarik napas untuk menenangkan diri. Iblis atau bukan, pria merupakan itu satu-satunya calon penyewa yang menawarkan uang tunai yang sangat ia butuhkan.
Pasti ada hikmahnya. Sayangnya begitu.
"Ruangannya ada," Jocelyn mengiyakan dengan nada was-was. "Tapi, aku merasa wajib untuk memperingatkan kalau ruangannya terletak di loteng dan sangat sempit. Aku tidakyakin ruangannya nyaman."Tangan kuat Mr. Valin yang ramping ditangkupkan di bawah dagu, mata keemasannya mengilat karena sinar mentari pagi yang menyelinap masuk.
"Jangan takut, aku memang tinggi, tapi untungnya, cukup cerdas. Setelah kepalaku terbentur kasau beberapa kali, aku pasti ingat untuk menunduk."
"Belum lagi di dekat sini ada rumah jagal. Terkadang baunya tak tertahankan."
"Setahuku hanya sedikit tempat di London yang tidak tercemar oleh bau tak sedap. Bahkan Mayfair pun tak bebas dari bau busuk."
Jocelyn bersusah payah mempertahankan ketenangannya. Ia tidak pernah membiarkan dirinya terpengaruh. Ia sudah belajar dari pengalaman pahit bahwa kehilangan kendali adalah undangan bagi bencana, "Tapi..... tidak seperti Mayfair, lingkungan ini juga berbahaya."
Tiba-tiba lesung pipi Mr. Valin terlihat sepintas. "My Dear, kau tidak beranggapan kalau Mayfair aman, kan? Bayangkan saja.... para ibu yang dipusingkan oleh pernikahan para pria yang berpakaian berlebihan dan beraroma minyak mawar, juga seorang pangeran yang bertekat untuk membuat kamarnya sepanas neraka. Itu sudah cukup mengerikan bagi orang-orang yang paling berani sekalipun." Ia mengangkat salah salah satu bahunya yang bidang. "Aku pasti bisa menghadapi sekelompok pencuri dan anak jalanan."
Tidak ada argumen yang masuk akal untuk menyanggah kata-kata percaya diri Mr. Valin. Meskipun pria itu bersikap santai, kekuatan yang gesit dari tubuh jantan serta tekat bulat yang terukir pada wajah rampingnya ketara jelas.
Hanya orang bodoh yang bisa meremehkan ancaman yang dihadirkan oleh Mr. Lucien Valin. Dan Jocelyn bukan orang bodoh.
"Terserah kau saja." Jocelyn mengalah dengan berat hati.
"Masih ada lagi?"
"Aku punya peraturan, tentu saja." tukas Jocelyn cepat-cepat, sama sekali tidak kaget waktu bibir Mr. Valin melengkung geli secara terang-terangan.
"Tentu saja."
"Ini bukan penginapan. Aku hidup dengan sangat tenang. Aku tidak mentoleransi pertemuan yang sangat gaduh atau acara mabuk-mabukan."
Salah satu alis kuning kecoklatan itu diangkat. "Aku tidak boleh menerima tamu?"
"Boleh asal mereka tidak berisik."
Entah mengapa respon tenang Jocelyn malah membuat Mr. Valin semakin geli. "Ah"
Rasa ngeri yang tak diundang kembali membuat Jocelyn bergidik, dan ia mendapati dirinya menahan kata-kata untuk mengusir Mr. Valin dari rumahnya.
Jocelyn sadar ia tidak boleh mengusir seorang calon penyewa yang sudah sangat cocok hanya karena suatu ketakutan yang tak beralasan.
"Dan kesepakatan kita bersifat sementara." cetus Jocelyn sebagai upaya untuk meredakan kegugupannya. "Tidak lebih dari dua bulan."
"Itu sudah cukup bagus bagiku."
Rupanya semuanya cukup bagus bagi sang iblis.
Jocelyn menyipitkan matanya. "Aku juga harus menekankan agar kau menghargai privasiku. Kau boleh makan di dapur bersama Meg, tapi bagian rumah yang lain tidak boleh dimasuki."
Terjadi keheningan sejenak sewaktu Mr. Valin memperhatikan wajah datar Jocelyn dengan cermat. Kemudiaan pria itu menganggukkan kepala sekilas. "Terserah kau saja, hanyab itu?"
Hanya itu tentu saja.
Jocelyn meminta bayaran kelewat tinggi kepada Mr. Valin untuk ruangan yang sempit dan makanan yang harus pria itu santap di tempat para pelayan.
Jocelyn ingin juga membuat peraturan yang keterlaluan dan pasti membuat pria terhormat yang berperangai paling halus jengkel.
Fakta bahwa Mr. Valin langsung menerima semua syarat dan aturannya membuat Jocelyn semakin curiga.
"Menhapa kau ke sini ?" tanya Jocelyn tiba-tiba.
Tangan Mr. Valin diturunkan sementara ia memandang Jocelyn sambil tersenyum bingung.
"Maaf?"
Jocelyn sengaja menurunkan pandangannya ke jas merah keunguan yang jelas dipotong oleh seorang ahli dan rompi putih yang dijahit dengan benang perak.
Pandangannya terus diturunkan ke kaki Mr. Valin yang padat dan kekar lalu berhenti di bot Hessian mengilat yang harganya melebihi penghasilan tahunan banyak keluarga.
Akhirnya Jocelyn mengangkat kepalanya dan mendapati Mr. Valin tengah memperhatikannya dengan penasaran. "Sudah jelas kalau kau ini orang berada, Mr. Valin. Mengapa kau mau menyewa ruangan bobrok di lingkungan yang menurut sebagian besar orang hanya pantas untuk para pembunuh dan pelacur?"
"Apakah alasanku sangat penting?" Mr. Valin balas bertanya dengan lembut.
"Aku tidak mau menyembunyikan seorang kriminal."
Tiba-tiba Mr. Valin tergelak."Percayalah aku tidak sedang menghindari tiang gantungan."
"Lantas mengapa?"
"Bisa dibilang aku sedang sedikit berselisih paham dengan sepupuku."
Penjelasan tersebut agak janggal bagi Jocelyn. "kau sedang sedikit berselisih paham dengan sepupumu dan sekarang kau mau bersembunyi di St. Giles? Alasanmu harus lebih baik dari itu Mr. Valin"
Kilat bejat pada mata keemasan itu menjadi jelas. "Mungkin lebih dari sekedar berselisih paham. Gideon bisa sangat menyebalkan kalau dia menginginkannya, dan dia menginginkan duel maut. Rasanya sebaiknya aku menghindarinya selama beberapa minggu ke depan. Hanya sampai ketenangannya kembali."
"Apa yang melatarbelakangi kesalahpahaman kalian?"
Secara tidak terduga wajah Mr. Valin menjadi kaku. " Ini urusan pribadi."
Seorang wanita, Jocelyn menyimpulkan dalam hati, dikejutkan oleh hunjaman kekecewaan yang menghianatinya. Apa lagi yang bisa ia harapkan dari pria seperti itu? Mr. Valin bagaimanapun juga dilahirkan untuk menghancurkan hati wanita yang mudah dirayu.
Kemudian Jocelyn memaki dirinya sendiri karena lamunannya yang tidak pantas. Ia tidak tau apa-apa tentang pria ini. Yang jelas tidak cukup tau untuk mencap Mr. Valin sebagai bajingan penakluk wanita. Dan sejujurnya kalaupun ia benar, ia tidak berhak menghakimi orang lain.
"Aku menghargai privasimu, tapi kau harus mengerti kalau aku tidak mau menjumpai seorang pria yang sedang marah di ambang pintu rumahku dengan pistol duelnya."
Ekspresi geli nan bejat langsung kembali ke wajah perunggu itu. "Dia tidak mungkin tau aku disini. Lagi pula, Gideon tidak akan menyakiti seorang lady. Dia jauh lebih suka menebar pesona. "Senyum Mr. Valin menjadi sangat cabul. "Begitupula denganku."
Dengan berhati-hati Jocelyn meletakkan tangannya di atas mejanya yang rapi. Kelakar genit inilah yang ia takutkan dari Mr. Valin. Ia harus segera membuyarkan semua harapan yang Mr. Valin miliki dengan godaan sambil lalu tadi.
"Bagus, jangan bayangkan barang sedetikpun kalau aku tertarik barang sedikit saja pada pesona yang kau bilang kau miliki itu Mr. Valin."
Sama sekali tidak tersinggung mendengar kata-kata tegas Jocelyn, Mr. Valin mengusap rahangnya dengan jemarinya yang lentik.
"Jangan melebih-lebihkan Miss Kingly. Tidak tertarik barang sedikitpun?"
"Tidak."
Mr. Valin menghela nafas menggoda. "Wanita yang sulit."
"Wanita pintar yang tak punya waktu untuk permainan konyol." ralat Jocelyn tegas. "Sebaiknya kau mengingat peringatanku"
"Oh daya ingat ku kuat," sahut Mr. Valin, merogoh ke balik jasnya untuk mengeluarkan sebuah tas kulit kecil yang kemudian ia letakkan di atas meja.
"Aku bahkan mengingat ini."
Jocelyn mengamati tas itu dengan waspada. "Apa itu?"
"Bayaran sewa dua bulan di muka, seperti yang kau minta."
Jocelyn tidak berusaha mengambil uangnya. Ia tahu bahwa ketika jemarinya menyentuh uang tersebut, itu artinya ia telah berkomitmen untuk mempersilahkan pria itu masuk ke rumahnya.
Namun, apa lagi yang bisa ia lakukan? Ia punya kebutuhan. Selain itu, ia harus memikirkan Meg. Pengasuh tuanya itu menjadi satu-satunya orang yang membelanya ketika scandal itu muncul. Meg adalah satu-satunya teman yang tersisa baginya di dunia.
Bagaimana bisa ia membiarkan wanita tua itu lebih menderita lagi?
Jawabannya, tentu saja, ia tidak bisa. Uang ini bisa membayar pemberi utang yang paling mendesak dan menghidangkan makanan di meja. Saat ini hanya itu yang penting.
Dengan muram mengenyahkan suara penuh peringatan yang berbisik di bagian belakang benaknya. Jocelyn menganggukkan kepala. "Terima kasih."
Seakan mengetahui pergumulan batin Jocelyn, sang iblis mengangkat alisnya dengan lagak mengejek samar. " Kau tidak mau menghitungnya?"
"Tidak perlu."
"Semudah itu kau percaya, Merpatiku?"
"Kau tidak akan sulit di cari kalau ternyata kau menipuku."
"Kau benar," timpal Mr. Valin sambil tergelak. "Kapan aku boleh ke ruanganku?"
Walaupun tidak selalu memilih kebenaran jika sedikit dalih terasa lebih praktis, Jocelyn mendapati dirinya tidak bisa mengarang kebohongan yang akan membebaskannya dari kehadiran Mr. Valin selama beberapa hari.
Bukannya itu penting.
Jocelyn tahu ia pasti hanya akan menghabiskan hari untuk memikirkan apa yang terjadi. Ini sama seperti menelan obat yang pahit. Sebaiknya dilakukan cepat-cepat.
"Ruangan sudah dibersihkan dan dirapikan," Jocelyn memaksakan diri untuk mengakui. "Kau boleh masuk ke sana kapanpun kau mau."
"Bagus. Aku akan mengambil barang-barangku dan ke sini nanti siang."
Nanti siang.
Jocelyn tidak sudi bergidik lagi. " Bagaimana dengan sepupumu?" tanyanya. "Memangnya dia tidak akan menembakmu kalau kau mengambil barang-barangmu?"
"Aku mendengar dari sumber terpercaya bahwa hampir semalaman dia menghabiskan waktu dengan kekasih barunya. Dia pasti baru bangun beberapa jam lagi."
Tanpa disadarinya, Jocelyn meringis. "Aku mengerti."
Ekspresi puas yang janggal melintas di wajah tampan itu. " Kau tidak membenarkan kegiatan pengisi waktu yang seperti itu, kan, Miss. Kingly.
Jocelyn langsung memasang ekspresi tenang di wajahnya. "Aku tidak cukup berhak untuk menyalahkannya Mr. Valin."
Diusir secara efisien, pria berambut kuning kecoklatan itu bangkit dari kursinya dengan enggan.
"Aku akan kembali beberapa jam lagi," Mr. Valin langsung memperingatkan.
Akan tetapi Jocelyn sudah siap untuk kesempatan ini.
"Kalau butuh sesuatu bicara saja dengan Meg. Dia sangat cakap dan memegang kendali sepenuhnya atas rumah ini." Mata keemasan Mr. Valin disipitkan saat degan tenang Jocelyn mengoper pria itu ke tangan pelayannya.
"Lebih capak darimu , Miss Kingly?" tanya Mr. Valin dengan suara paraunya.
"Tak perlu diragukan lagi." Menganggukkan kepala singkat, Jocelyn duduk kembali dan mengambil buku besarnya. "Sampai jumpa, Mr. Valin."
Mr. Valin tetap berdiri di samping meja, tapi ketika Jocelyn terus mengarahkan pandangannya ke halaman catatan pembukuannya, pria itu akhirnya tergelak pelan. "Sampai nanti, My Dear."
Jocelyn terus berpura-pura sibuk sampai akhirnya mendengar suara pintu yang ditutup ke belakang tubuh Mr. Valin yang menjauh. Setelah itu barulah ia bersandar di kursinya dan memejamkan mata karena keletihan yang janggal.
Makan malam akan tersaji di meja nanti malam.
Berapa harganya?
Dan apakah disiap membayarnya?
***
Secara mengejutkan, dapur tampak bersih dan diharumkan oleh aroma lezat dari roti yang baru dipanggang serta tanaman bumbu yang dikeringkan.
Duduk di meja yang sudah dibersihkan, Lucien bersandar menghela napas dalam-dalam.
Keadaan di sekelilingnya tidak bisa dibandingkan dengan town house Gideon yang luas atau bahkan hotel elegan yang ia pilih setibanya ia di London. Rumah itu memang rapi dengan perabotan yang kokoh, tapi jelas sekali lingkungannya sangat buruk dan udaranya berbau sampah busuk serta selokan.
Namun, ia tidak terlalu kecewa kalau pencariannya telah membawanya ke rumah sempit di jalan buntu nan kumuh itu. Ruangan-ruangannya memang sempit dan indra-indranya yang peka terganggu oleh lingkungan yang terlantar, tapi semua menjadi tak berarti begitu ia melangkah masuk ke ruang kerja yang kecil.
Sekarang saja ia bisa merasakan goncangan dari keterpesonaannya tatkala ia melihat Miss Kingly.
Wanita itu membuatnya terpukau.
Wajah Miss Kingly berbentuk oval sempurna dengan mata besar berwarna biru jernih bak lautan tropis. Rambutnya, yang disanggul ketat di tengkuknya berwarna hitam mengkilat dan sangat kontras dengan kulit sewarna krimnya yang mulus. Miss Kingly memiliki kecantikan abadi milik seorang Madonna, lekuk-lekuk molek yang bisa membuat pikiran seorang pria melantur ke arah yang berbahaya.
Sebagai seorang kolektor benda-benda artistik, Lucien tergugah oleh keelokan Miss Kingly.
Sebagai seorang vampir dengan gairah yang terbebas untuk yang pertama kalinya dalam waktu dua abad suatu bagian dari anatomi Lucien tergugah.
Ia sempat memikirkan sejenak betapa cepatnya ia bisa merayu Jocelyn untuk naik ke tempat tidurnya. Betapa indahnya Jocelyn yang telentang di atas seprei putih bersih, rambut wanita itu seperti sungai sutra, renung Lucien dengan kerinduan nyata. Diterpa cahaya lilin, kulit Jocelyn akan mengilat pucat laksana porselen halus. Lekuk-lekuk molek wanita itu akan pas di tangannya. Ah, menaklukkan wanita seperti pasti memberi kenikmatan yang tak terkatakan.
Tapi sementara darahnya menggelegak penuh antisipasi, Lucien menatap mata awas itu dan merasakan kesepian yang jauh di kedalamannya.
Gairah Lucien yang sudah diperhitungkan pun padam dengan helaan nafas penuh sesal.
Miss Kingly tidak butuh kekasih.
Wanita itu butuh juru selamat.
Kesadaran tersebut datang tanpa diundang seperti bau busuk dari rumah jagal di dekat situ, juga tidak bisa dihindari.
Lucien ke sini untuk melindungi gadis itu. Semoga saja sifat kesatriannya yang sudah berkarat bisa dibujuk untuk mengalahkan hasrat yang bahkan sekarang pun telah bergolak di dalam darahnya.
Mendorong mundur piringnya, Lucien tersenyum pada orang yang tidak diragukan lagi merupakan jendral di rumah itu. Pelayan tersebut merupakan wanita besar yang berambut kelabu seperti besi dan berwajah seperti granit. Lucien hanya bisa berharap agar hatinya tidak sekeras itu.
"Lezat, My Dear, Meg" puji Lucien. "Enak sekali. Mahakarya sejati." Pesona yang dulu Lucien kira ampuh ternyata tidak efektif. Tidak efektif untuk si pelayan dan juga majikannya.
"Ini cuma shepherd's pie, mahakarya apanya?"
"Ah, tapi di tangan seorang seniman, shepherd's pie pun bisa menjadi mahakarya. Dan kau, tentunya, jelas seorang seniman." Ternyata wanita itu malah memandang Lucien dengan lebih curiga lagi. "Miss Jocelyn memperingatkan saya kalau anda memiliki lidah fasih iblis. Sekarang saya tahu alasannya."
Lucien sama sekali tidak kaget. Sejak memasuki rumah ini ia sudah tahu kalau gadis muda itu gelisah di dekatnya.
Sayangnya Medalion yang Miss Kingly kenakan di leher membuat mantera Penggerak tidak bisa digunakan. Artefak kuno itu cukup kuat untuk melindungi Miss Kingly bahkan dari kemampuan paling berbahaya yang dimiliki oleh seorang vampir. Lucien sadar ia harus memenangi kepercayaan gadis itu dengan cara yang lebih sulit dan memakan waktu.
Bukan salah satu bakatnya yang terkenal.
"Oh ya?" gumam Lucien. "Gadis muda yang sangat menarik dan unik."
"Ah Meg kau membuatku terluka."
"Belum, tapi akan saya lakukan kalau anda mempermainkan Miss Kingly."
Lucien tertawa kaget, mendapati bahwa ia sangat senang berdebat dengan pemarah tua yang kasar itu. Terlepas dari sikap ketusnya, sudah jelas kalau Meg sangat setia kepada Jocelyn.
"Apa?"
Meg meletakkan tangannya di pinggulnya yang besar. "Miss Kingly adalah wanita baik-baik dan terhormat yang telah dilukai dan dikecewakan jauh melebihi apa yang sepantasnya. Saya akan menghajar siapa pun yang cukup bodoh untuk menyakitinya lagi dengan panci saya."
Lucien langsung penasaran. Dilukai dan dikecewakan. Pemahaman adalah kekuatan, dan Lucien sangat ingin memahami Jocelyn Kingly sampai sejauh mungkin.
"Sungguh disayangkan. Dia masih terlalu muda untuk menanggung derita dunia ini. Katakan, apa yang melukainya?"
"Dia yang berhak menceritakannya. Ingat saja kalau saya akan mengawasi anda."
Lucien membalas tatapan penuh peringatan itu dengan tenang. Tentu saja, ia bisa memaksa Meg untuk membeberkan masa lalu Miss Kingly, dan semua yang ia inginkan, tapi ia menolak godaan tersebut. Selain dirinya, wanita ini adalah satu-satunya orang di London yang bersedia mempertaruhkan segalanya demi melindungi gadis lemah itu. Ia membutuhkan Meg yang berpikiran jernih.
"Aku tidak berniat untuk menyakiti Miss Kingly," ujar Lucien. "Aku tidak akan menyakiti wanita muda manapun. Tapi aku juga tidak akan mengabaikannya. Jelas dia membutuhkan kehadiranku."
"Membutuhkan kehadiran anda? apa maksud anda?"
"Ada kesedihan mendalam di matanya."
"Hah. Saya sudah tahu itu. Seluruh London juga sudah tahu. Seperti yang saya katakan, dia pernah dihianati dulu."
"Dan dia tidak membiarkan luka-lukanya pulih," ujar Lucien lembut, menatap sorot bimbang Meg. "Kesalahan fatal. Kegetiran itu seperti infeksi yang akan menghancurkan jiwanya jika tidak dibersihkan."
Memahami luka-luka Jocelyn yang rentan sebaik Lucien, Meg mengendurkan kewaspadaannya dengan enggan.
"Mungkin. Menurut anda bagaimana kegetiran ini bisa dibersihkan?"
"Pertama dengan menunjukkan bahwa masih ada kesenangan yang masih bisa ditemukan di dunia ini."
Mata pucat itu disipitkan. " Kesenangan yang sebesar apa?"
Bibir Lucien berkedut karena kecurigaan terang-terangan Meg bahwa ia berniat merayu sang majikan. Kecurigaan yang beralaskan kuat.
"Sebesar yang dia kehendaki, tidak lebih," jawab Lucien, menenangkan yang lebih tua itu. "Memang kau pikir dia tidak layak bahagia?"
"Tentu saja dia layak bahagia. Tidak ada yang lebih layak."
"Jadi kalau aku ingin memancing Miss Kingly dari cangkang ketenangannya yang dingin, aku tidak perlu takut disambut dengan panci?"
"Tergantung," Meg memperingatkan, pandangannya diarahkan dengan penuh arti ke panci di atas konter.
"Tergantung apa?"
"Tergantung apakah pancingan anda membahayakan hati Miss Jocelyn. Dia sama sekali tidak sekebal yang diyakini orang-orang.Apalagi kalau sudah berurusan denga n iblis berlidah fasih."
Tidak diragukan lagi kalau kecemasan Meg tulus, tapi Lucien langsung mengesampingkannya. Ia harus berdekatan dengan Jocelyn kalau mau melindungi gadis itu.
Semua rintangan yang ada harus ditangani setelah para penghianat dikembalikan ke balik Tabir.
"Aku hanya ingin melihatnya tertawa." gumam Lucien akhirnya.
Meg menghela napas pelan, " saya juga."
"Kalau begitu, kita harus bekerja sama."
"Lihat saja nanti." Wanita itu tidak mau berbicara lebih banyak dari yang diperlukan.
"Kau ingin menggunakan panci itu ya?"
"Oh, tentu saja."
Sambil tertawa, Lucien berdiri. "Kita pasti akur, Meg."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar