Minggu, 01 November 2015


BAB III

 

Setelah menghabiskan waktu semalaman untuk memaki dirinya sendiri karena kebodohannya dalam menerima kesepakatan konyol Mr. Valin, Jocelyn terbangun dengan tekad untuk mengusir kebodohan itu dari benaknya. 
Jocelyn terguncang karena tahu Molly dibunuh secara biadab, dan anehnya gelisah dengan pertemuan Mr. Fallow. Pendeta asing itu memang memperlihatkan keberanian dan belas kasih dengan bergegas membantunya, tapi baginya kehadiran Mr. Fallow meresahkan dengan cara yang tidak mampu ia jelaskan.
Bahkan, ia hampir bertanya-tanya apakah ia lebih suka meghadapi para berandalan yang semalam sendirian. 
Singkatnya, malam tadi telah menjadi pengingat mengerikan tentang dunia biadab yang sekarang ia huni. Tidak heran rasanya kalau ia lengah dan memanipulasi dengan mudah untuk menerima kesepakatan licik itu. 
Sekarang ia hanya berusaha untuk memanfaatkan situasinya yang tidak menguntungkan dengan seanggun dan sebermartabat mungkin.
Jocelyn meringis masam saat duduk di balik meja di ruang kerjanya. Entah mengapa mempertahankan keanggunan serta martabat terasa sangat sulit di depan Mr. Valin. Pria itu terlalu kurang ajar, terlalu lancang, dan terlalu mempesona.Semangat Mr. Valin yang kurang sopan menjadi ancaman konstan bagi ketenangannya. 
Mengusir tegas semua lamunan tentang Mr. Valin dan Molly yanng malang, dengan berhati-hati Jocelyn memeriksa tagihan-tagihannya yang paling mendesak. Ada banyak yang bisa ia bayar dengan uang sewa yang sudah ia terima, dan yang lain bisa menunggu sampai tunjangan tiga bulannya keluar. Sisanya tidak banyak, tapi dengan bijaksana ia tahu ia bisa membeli makanan tambahan yang dibutuhkan untuk menolong anak-anak jalanan yang bergantung kepadanya.
Jocelyn sedang sibuk membuat daftar persediaan, ketika tiba-tiba Meg memasuki ruangan dengan kekesalan yang kentara jelas.
"Ada seorang pria yang ingin bertemu denganmu, Miss Jocelyn," tukas Meg dengan nada tidak suka. "Katanya dia seorang Runner."
"Seorang Runner?" Jocelyn bangun saking kagetnya. Meskipun petugas patroli kerap mengawasi jalan-jalan yang kumuh dengan sambil lalu, jarang seorang Bow Street Runner tertarik kepada tempat bernaung bagi manusia yang terlesip di jalan-jalan London yang lebih kelam. "Sebaiknya kau mempersilahkannya masuk, Meg."
Meg melipat tangan di depan dadanya yang besar sambil mendengus keras. "Aku memang tidak berhak menilai, tapi menurutku seorang pria yang seperti itu pasti punya urusan yang lebih penting daripada mengganggu gadis-gadis yang taat hukum dan meninggalkan kotoran di lantai yang barusaja ku gosok."
Jocelyn tidak kuasa menahan senyum simpulnya waktu mendengar nada jengkel Meg. Meg tidak pernah mendukung sepenuhnya keinginannya untuk tinggal di lingkungan seperti ini dan menolong orang lain. Dan Meg semakin tidak senang kalau dirinya dimanfaatkan. 
Meg jauh lebih protektif dari ibu mana pun.
"Dia pasti menganggap urusannya di sini penting," gumam Jocelyn.
Dengusan keras kembali terdengar. "Sebaiknya begitu. Kalau tidak, dia harus membersihkan lantainya sendiri." Dengan enggan Meg berbalik dan meninggalkan ruangan, mengentak-entakkan kaki dengan cara yang mengindikasikan bahwa ia ingin mengomeli sang tamu habis-habisan karena berani mengganggu Jocelyn. 
Mengitari meja, Jocelyn hanya menunggu sebentar sebelum pria besar yang ternyata masih muda dengan wajah ramah dan rambut ikal cokelat berantakan memasuki ruangan. Pria itu lebih mirip dengan seorang pemilik penginapan atau saudagar ketimbang seorang Runner yang berbahaya, dan Jocelyn mendapati kegelisahan yang sebelumnya ia rasakan surut ketika pria itu membungkuk dengan gagah.
"Maaf karena sudah mengganggumu Miss Kingly. Aku Mr. Ryan."
"Mr. Ryan." Jocelyn menganggukkan kepala. "Kalau tidak salah kau dari Bow Street."
Pria itu tersenyum penuh sesal. "Ah, itu benar, tapi jangan memusuhiku karenanya. Aku hanya seorang pria sederhana yang  semampu mungkin untuk mencari nafkah."
Jocelyn langsung merasakan kalau pria ini memanfaatkan sepenuhnya pesona kekana-kanakannya yang kuat. Bila bukan karena kilat kecerdasan di mata birunya, orang pasti mudah keliru mengenalinya sebagai pria yang gampang diperdaya.
Jocelyn hanya bisa bertanya-tanya, berapa banyak kriminal yang telah terpancing sampai mengakui jauh lebih banyak daripada yang seharusnya.
"Kau mau duduk?" tanya Jocelyn sambil duduk di pinggir kursi di dekat meja. Ia menunggu sampai Mr. Ryan menempatkan tubuh besar pria itu di kursi di seberangnya sebelum melanjutkan, "Apa yang bisa ku bantu?"
Untungnya Mr. Ryan langsung ke pokok masalah. "Aku sedang menyelidiki kematian Molly Chapwell." 
Jocelyn mengangkat sebelah tangannya ke dada. Kesedihannya masih terlalu segar untuk diabaikan. "Molly yang malang." 
Mr. Ryan mengangkat sebuah alisnya begitu mendengar kata-kata Jocelyn. "Kau sudah tahu dia dibunuh?"
"Pendeta Fallow yang memberi tahuku semalam." Jocelyn meringis sewaktu teringat kepada pria yang membuatnya ngeri itu. "Aku sedang mencari Molly kemarin."
"Ah, ya." Mr. Ryan mengusap rahangnya sambil berpikir. "Pendeta itu yang menemukan jasadnya."
"Katanya penyerangannya biadab."
Senyum Mr. Ryan sirna. "Aku tidak akan berbohong kepadamu Miss. Penyerangannya sangat mengerika."
Jocelyn bergidik, tidak mampu membayangkan seseorang tega melukai gadis sederhana yang baik hati itu, tidak peduli ia pelacur atau bukan. "Mengapa? Mengapa seseorang mau menyakiti Molly sampai sekeji itu?"
Mr. Ryan terdiam sejenak. "Sejujurnya, kuharap kau bisa menjawab pertanyaan itu."
"Aku?" balas Jocelyn kaget.
"Kau mengenalnya?"
"Hanya dari jalanan." Tanpa disadari, Jocelyn menghela napas. "Aku berusaha membujuknya meninggalkan kehidupannya sebagai seorang pelacur dan pindah ke properti kecil milikku di luar London. Sayangnya dia tidak menggubris permintaanku. Sekarang sudah terlambat."
"Kau tidak tahu menahu apakah ada orang yang membuatnya takut?" desak Mr. Ryan.
Selama sesaat Jocelyn mengingat suami Molly si pemabuk, yang sering membuat mata Molly memar. Jelas pria itu kasar. Namun Jocelyn tidak percaya kalau suami Molly sudi kehilangan satu-satunya sumber pemasukannya. Pria itu memang keji, tapi juga benar-benar bodoh.
"Dia tidak memberitahuku, " akhirnya Jocelyn mengaku.
"Apa dia akan mencarimu kalau mendapati dirinya dalam bahaya?"
Pertanyaan tersebut mengejutkan Jocelyn. Apakah Molly akan mencarinya jika membutuhkan bantuan?
"Entahlah, mungkin." Jocelyn mengangkat tangannya. "Mengapa kau bertanya?"
"Karena ini ditemukan dalam genggamannya." Mr. Ryan mencondongkan ke depan untuk menjejalkan selembar kertas kusut ke Jocelyn.
Terkejut, Jocelyn menunduk dan melihat namanya yang ditulis dengan tulisan cakar ayam di kertas sobek itu. 
"Ada namaku di sini," enggah jocelyn kaget, kemudian alisnya menyambung saking kagetnya ia. "Tapi...."
"Ada apa?"
Dengan perlahan Jocelyn mengangkat pandangannya untuk membalas tatapan mantap Mr. Ryan, "Molly tidak bisa membaca ataupun menulis." 
Mata biru itu disipitkan karena ada pekikan mendadak Jocelyn. "Cerdas sekali, Miss Kingly. Aku juga sudah menduganya."
Jocelyn tidak bisa menahan diri agar tidak bergidik hebat. Mengetahui bahwa seorang kenalan telah dibunuh secara brutal saja sudah cukup meresahkan. Mendapati bahwa ia sedang menggenggam kertas yang bertuliskan namanya membuat kengeriannya bertambah hebat. Tiba-tiba saja pembunuhan Molly terasa sangat pribadi.
 "Mengapa ada namaku di kertas yang ia genggam?" bisik Jocelyn.
 Mr. Ryan menatap Jocelyn dengan muram. "Sepertinya ada dua kemungkinan. Entah dia menerima kertas ini untuk tujuan yang tidak diketahui. Atau...."
"Apa?"
"Atau kertas ini dijejalkan ke tangannya setelah dia dibunuh."
Jocelyn menjatuhkan kertas itu ke lantai, tanpa disadari menggosok-gosokkan jemarinya ke rok, seolah ingin membersihkan ancaman yang menggelenyar di sekelilingnya. "Mengapa? Untuk tujuan apa?"
Pria besar itu meringis. "Entahlah."
"Oh, Tuhan," engah Jocelyn, merasa lebih gelisah daripada yang ingin ia akui.
"Aku menyampaikan ini kepadamu hanya karena aku yakin kau harus berhati-hati, Miss Kingly. Mungkin kegiatanmu di tengah kaum yang kurang beruntung telah menjadikanmu musuh yang berbahaya."
Dengan bersusah payah Jocelyn menenangkan diri. Ia tidak mau panik sampai menelantarkan orang-orang yang bergantung kepada sokongannya. Toh ia juga ketakutan saat baru mendiami rumah yang sangat dekat dengan rumah-rumah bordil ini. Dan lebih ketakutan lagi ketika menyusuri jalan malam-malam untuk pertama kalinya. Apapun yang terjadi akan ia hadapi dengan berani, bukan dengan meringkuk di balik pintu. 
"Konyol sekali, tukas Jocelyn singkat. "Yang kulakukan hanyalah menawarkan harapan kepada mereka yang tidak memilikinya."
"Selalu ada yang diuntungkan dari penderitaan orang lain," cetus Mr. Ryan dengan penuh peringatan. "Mereka pasti tidak menyukai campur tanganmu."
Jocelyn tidak bisa membantah kebenaran dari kata-kata Mr. Ryan. Selalu ada orang yang seperti suami Molly. Juga pria-pria mengerikan yang menjual anak-anak ke rumah bordil. Jocelyn yakin beberapa orang mengutuki namanya. Bahkan ingin menyingkirkannya di jalan-jalan. 
Tapi masih banyak orang yang menganggapnya penyelamat mereka dari kelaparan atau keadaan yang lebih buruk lagi. 
"Jangan memintaku menghentikan upayaku , Mr. Ryan," ucap Jocelyn pelan. "Tidak ada gunanya." 
Mr. Ryan tersenyum perlahan, seakan sudah menduga respon teguh Jocelyn. "Aku hanya memintamu mengingat bahwa apa yang kau lakukan bisa mengundang bahaya. Dan jangan abaikan sesuatu yang janggal kalau kau sedang berada di jalanan."
Jocelyn berdiri, mengangguk sepintas, "Baiklah." 
Bangkit berdiri, sang Runner membiarkan kebulatan tekadnya mengusir keceriaannya. 
"Jangan takut," Mr. Ryan menenangkan Jocelyn dengan nada tegas. "Kami akan segera menyeret monster itu ke Newgate."
Jocelyn tidak ragu barang sedetik pun kalau pria ini akan mencari si pembunuh tanpa kenal lelah. Tidak seperti kebanyakan orang, Mr. Ryan tidak mencibir waktu berbicara tentang Molly, atau menekankan fakta bahwa Molly hanya seorang pelacur. Alih-alih , ada tekad bulat yang terukir di wajahnya. 
"Kuharap begitu. Dia harus dihukum atas apa yang dia lakukan kepada Molly yang malang."
"Pasti. Tapi sebelum itu terjadi, tolong berhati-hati."
"Ya, pasti."
"Kalau begitu, selamat siang." Setelah membungkuk, Mr. Ryan membalikkan badan lalu meninggalkan ruangan.
Jocelyn tetap berdiri sambil merenungkan kunjungan tak terduga barusan. Ia bertekad untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap pengumuman bahwa Molly menggenggam kertas yang bertuliskan namanya. Bisa ada selusin penjelasan. Bodoh rasanya menghantui dirinya sendiri, ia tidak bisa menyangkal gejolak kelegaan yang tak terduga karena Mr. Valin bisa menjadi pelindung yang cakap. 
Dan setidaknya dalam waktu dekat ini ia tidak akan sendirian.

***
Kereta kuda sewaan itu berhenti di balik bayangan-bayangan St. Giles. Dengan berhati-hati Lucien membantu Miss Kingly turun, lengkap dengan keranjang besar yang bersikeras wanita itu bawa. Lucien agak kaget waktu Miss kingly tidak memprotes tekadnya untuk menemani gadis itu ke jalan malam ini, dan ia hanya bisa bertanya-tanya tentang apa yang terjadi dengan sang  Runner tadi siang. 
Jelas ada yang membuat Miss Kingly cukup resah hingga rela menurunkan harga diri sampai bersedia menerima bantuannya. Dan walaupun lega karena tidak perlu berdebat panjang lebar, Lucien tidak dapat menahan diri untuk memikirkan bahaya apa yang wanita itu hadapi.
Apa pun itu, sebaiknya ia waspada, Lucien menenangkan dirinya sendiri dengan tegas, pandangannya tertuju pada garis-garis halus pada wajah Miss Kingly. Betapapun tangguhnya Miss Kingly menganggap dirinya sendiri, Lucien tahu wanita itu tidak akan siap menghadapi apa yang sekarang memburunya. 
Tidak ada makhluk fana, betapapun berani dan gigihnya ia, yang siap menghadapi seorang vampir. 
Seolah merasakan kecemasan Lucien tapi keliru manafsirkan penyebabnya, Miss Kingly memandangnya sambil mengangkat alis. "Apa tekadmu sudah bulat?"
Lucien tersenyum seraya menggamit tangan Miss Kingly dengan mantap lalu meletakkan di lengannya. "Sangat bulat, Merpatiku. Aku akan berada di sisimu setiap malam kau menyusuri jalan., dan bahkan membayar keistimewaan ini."
Jocelyn mengangkat bahu sekilas, tapi ia tidak bisa menyembunyikan kelegaannya sepenuhnya. "Itu uangmu, jadi terserah kau saja."
"Benar. Dan akan segera menjadi uangmu."
"Ya." Jocelyn mengarahkan pandangannya ke jalan yang gelap. "Kita ke sana."
Lucien mengangguk, tapi sebelum ia melangkah, gelenyar yang sudah familier merambat di punggungnya. Ia menegang, memeriksa kegelapan dengan benaknya unutk mencari sumber kedengkian yang hampir terasa jelas di udara. Ia membutuhkan waktu sesaat untuk menemukan vampir yang ia cari di gang di sekitar situ, lalu dengan segan ia mengangkat tangan Miss Kingly dari lengannya.
"Sebentar, My Dear"
Miss Kingly menoleh ke Lucien dengan kaget. "Ada apa?"
"Tetaplah di sini, jangan ke mana-mana."
"Mr. Valin, kau mau ke mana?" desak Miss Kingly dengan nada tidak sabar.
"Menyingkirkan pengganggu." Mengeluarkan belati dari balik jasnya, Lucien menyusuri jalan dengan gesit lalu menyelinap ke dalam gang. Ia menghadapi kabut perak itu dengan dahi yang dikerutkan. "Tampakkan dirimu, Amadeus."
Dengan gelak tawa yang menyeramkan, kabut berputar, membentuk sosok pendeta yang tidak mencolok. 
"Sekadar menjaga propertiku, Lucien. Kita sama-sama tidak mau terjadi sesuatu pada Medalion."
Lucien menyipitkan mata saking muaknya. "Aku berniat untuk menjaga Miss Kingly baik-baik. Kekhawatiranmu tak beralaskan."
Amadeus mendecakkan lidahnya dengan tidak sabaran. "Wanita itu tidak berarti. Yang menarik bagiku hanyalah kekuatan yang tanpa sadar dia pendam. Selama dia memiliki Medalion, aku akan berada di dekatnya."
Lucien tidak menyangsikan ancaman tersebut barang sedetik pun. Amadeus mempunyai satu tujuan yang akan membuatnya tak berbelas kasihan demi merebut Medalion.
"Medalion tidak akan pernah menjadi milikmu," janji Lucien pelan.
Lagi-lagi Amadeus tergelak, ekspresinya mencemooh sewaktu ia memandang Lucien. "Medalion akan menjadi milikku dalam waktu sebulan. Tidak ada yang bisa kau lakukan untuk menghentikanku. "
Lucien menggenggam erat belati di tangannya. "Apa kau mau membereskannya sekarang?"
"Sekarang? Itu sama sekali tidak logis." jawab Amadeus. "Moment untuk menjalankan rencanaku belum tiba."
Rencana? Lucien merasakan gejolak keresahan. Ia benar-benar tidak suka mengetahui bahwa vampir lihai itu sedang dengan sabar menyusun siasat secara diam-diam.
Amadeus licik dan sangat keji. Yang paling parah, sepertinya ia tidak mudah di bujuk untuk melupakan hasrat menggepunya akan kekuasaan.
"Aku tidak mau memusnahkanmu, Amadeus," ujar Lucien dengan nada muram, keseganannya terlihat jelas. "Tapi akan ku lakukan kalau memang harus."
"Kau?" Amadeus melangkah maju,matanya berkilat geli. "Beberapa hari lagi kau pastia akan jenuh dengan peranmu sebagai kesatria gagah berani dan mencari hiburan yang lebih menarik. Kau tidak pernah pantas menjadi vampir sejati."
Tuduhan itu memukul telak. Tidak dapat dipungkiri kalau ada banyak vampir yang memandang Lucien lebih sebagai pengganggu daripada saudara. Bahkan Dewan Agung pernah menegurnya akibat pembawaanya yang serampangan dan tanggung jawabnya yang kurang. 
Dan mungkin, di lubuk hatinya ada secercah keraguan bahwa ia pantas melaksanakan tugas besar yang di bebankan kepadanya. Suatu tugas yang lebih baik diserahkan kepada vampir yang jauh lebih layak.
Akan tetapi, ia tidak akan memperlihatkan kelemahan apapun di depan Amadeus.
"Aku tidak akan gagal," janji Lucien lembut. "Tidak akan."
"Tentu saja kau akan gagal," ejek Amadeus. Itu tidak bisa dihindari lagi seperti keberhasilanku yang tidak bisa diragukan lagi. Aku selalu menang. Temanku yang malang. Sebaiknya kau tidak mengganggu ku."
Udara di sekitar vampir itu tiba-tiba gemerlapan, dan dalam sekejap mata Amadeus sudah berubah menjadi seekor anjing hitam besar. Dengan satu lompatan kuat ia melewati Lucien dan berlari di jalan.
Sambil mengumpat, Lucien berbalik untuk mengikuti, tapi ketika ia meninggalkan gang, sosok ramping Miss Kingly muncul dari balik bayangan.
"Mr. valin."
Lucien meringis tidak sabar, tahu ia tidak bisa meninggalkan gadis itu untuk mengejar vampir itu. Amadeus bukan satu-satunya bahaya yang mengancam di jalan-jalan gelap.
Meredam hasrat menggebunya untuk mencari tahu apa sebenarnya yang direncanakan oleh penghianat, Lucien memandang wajah pucat Miss kingly sambil mengangkat sebelah alisnya. "Rasanya aku sudah memintamu untuk tidak ke mana-mana."
Harga diri Miss Kingly langsung terluka oleh kata-kata tegas Lucien. "Aku tidak wajib mematuhi perintahmu, Mr. valin."
Kekesalan Lucien langsung sirna karena tantangan kaku Miss Kingly, lalu seulas senyum mengembang di bibirnya saat ia mengulurkan lengannya. "Aku tahu. Kita berangkat."
Terjadi keheningan sejenak sebelum akhirnya Miss Kingly meletakkan jemarinya di lengan Lucien. "Apa yang kau lakukan tadi?"
Lucien meringis, masih bisa merasakan kedengkian yang mencekik lemah. "Bercakap-cakap dengan seorang teman lama."
"Seorang teman?" Mata Miss Kingly langsung disipitkan. "Di lingkungan ini?"
Lucien langsung tertawa begitu menyadari arah pemikiran Miss Kingly. "Berhentilah memelototiku dengan sorot mencela seperti itu. Temanku bukan wanita malang yang berasal dari rumah bordil. Yang tadi itu seorang kenalan dari kampung halamanku."
Secercah rona mewarnai pipi Miss Kingly begitu ia menyadari bahwa ia langsung menarik kesimpulan barusan, tapi tatapannya tetap mantap. "Di mana kampung halamanmu?"
Lucien mengangkat bahu. "Sekarang ini di loteng rumahmu."
"Bukan itu maksudku."
"Bukan?"
"Bukan."
Meskipun tidak yakin ia bisa menyimpan rahasianya selamanya, Lucien tidak akan mengakui yang sebenarnya sebelum membuktikan kepada Miss Kingly bahwa wanita itu bisa mempercayainya.
"Kurasa kita harus menjalankan rencana kita. Malam sudah semakin larut."
Miss Kingly mengerutkan dahi karena ketenangan Lucien. "Apa yang kau sembunyikan?"
"Semua ada waktunya, My Dear. Saat ini menurutku kita harus berkonsentrasi pada apa yang kita rencanakan malam ini." 
Mungkin merasakan bahwa Lucien tidak akan memuaskan rasa penasarannya sekarang, akhirnya Miss Kingly memelototi Lucien dengan tajam, sekali lagi sebelum menganggukkan kepala dengan segan. "Terserah kau saja. Lewat sini."
Membiarkan Miss Kingly memimpin jalan, Lucien terus mengawasi sejumlah pemabuk dan berandalan yang berjalan sempoyongan dari bar-bar lokal. Lebih dari satu yang membiarkan pandangan penuh nafsu mereka berlama-lama tertuju ke gadis cantik di sebelah Lucien, tetapi melihat wajah siaga Lucien sekali saja sudah cukup untuk meyakinkan mereka agar beralih ke permainan yang tidak terlalu berbahaya. 
Lucien sangat bersungguh-sungguh menjaga kewaspadaannya sampai-sampai ia hampir menabrak Miss Kingly ketika wanita itu berhenti mendadak di depan sebuah bangunan yang sudah hampir roboh. 
"Gudang kosong?" tanya Lucien bingung.
"Gudangnya tidak kosong." Miss Kingly berjalan menuju sebuah pintu sempit. "Ayo, tapi tetaplah waspada."
Lucien tersenyum sendu mendengar peringatan gadis itu. "Aku selalu waspada, merpatiku."
Sampai di pintu, Miss Kingly mengetuk pintu kayu yang sudah terbelah kuat-kuat. Dari dalam terdengar suara yang teredam. "Siapa itu?"
"Ini Miss Kingly."
Terjadi keheningan sebentar. "Apa kau tahu kata sandinya?"
"Thomas," sahut Miss Kingly dengan nada tegas.
"Maaf, bukan itu."
"Thomas, buka pintunya sekarang juga."
Dengan cepat pintu dibuka, memperlihatkan seorang anak jalanan dengan wajah bulat dan kotor serta pakaian yang terlalu besar untuk tubuh kurusnya. 
"Hanya bersenang-senang sedikit, Miss Kingly," ujar anak itu sambil tersenyum nakal.
"Mmm. Rasanya aku ingin memberikan kue tart persikmu ke anak lain."
Anak itu tidak kelihatan takut dengan ancaman tersebut. Malah, senyumnya bertambah lebar.
"Aduh, kau kan tahu aku ini kesayanganmu, Miss Kingly."
Miss Kingly mendecakkan lidah dengan gaya mencela , tapi kilat geli di matanya terlihat jelas. 
"Kau anak nakal."
"Ya, tapi anak nakal yang menggemaskan."
Miss Kingly tergelak sembari merogoh keranjang yang ia bawa untuk mengeluarkan sebuah tas kecil. "Apa ada yang cidera?"
"Freddie terluka sedikit semalam, jawab Thomas, senyumnya sirna.
"Dia di mana?"
"Di pojok"
"Ini." Miss Kingly menyerahkan keranjangnya kepada anak lelaki itu. "Beri makan yang paling kecil terlebih dahulu."
"Baik, Kapten." Anak jalanan itu langsung menurut, membalikkan badan untuk bergegas melewati pintu. 
 Berdampingan dengan Miss Kingly, Lucien memasuki interior gudang yang kotor dan gelap. Ia berhenti sebentar begitu bau selokan dan makanan  busuk akan mengancam akan membuat indra-indranya yang peka kewalahan. Demi Nefri yang Agung, tempat ini seperti lubang jamban.
Dorongan kuat untuk menyambar Miss Kingly dan membawa wanita itu meninggalkan tempat mengerikan ini mendera Lucien. Tidak ada gadis yang boleh terekspos kepada lingkungan sekumuh ini. Tapi saat pikiran tersebut melintas dibenaknya, pandangannya tertuju ke kelompok anak-anak yang berdesak-desakan mengerumuni Thomas dan keranjang makanan tadi. Jumlah mereka setidaknya dua puluh orang dengan usia yang berkisar dari enam belas sampai..... beberapa anak itu pasti tidak lebih dari lima tahun. Hati Lucien tersentuh karena menyadari bahwa mereka telah dibuang ke jalanan seolah mereka tidak lebih dari sampah. 
Tidak mengherankan kalau Miss Kingly tidak mampu mengabaikan penderitaan sebesar ini, batin Lucien, menoleh untuk memperhatikan Miss Kingly sementara wanita itu menghampiri sesosok tubuh kecil yang meringkuk di pojok seberang.
Tidak bisa dipercaya rasanya ada makhluk berhati nurani yang bisa membiarkan penderitaan sebesar itu ada. 
Tidak yakin apakah ia perlu menyusul Miss Kingly dan mengambil risiko membuat anak yang cedera itu ketakutan, Lucien berhenti begitu sesosok tangan kecil, tiba-tiba menggenggam jemarinya. 
Menunduk, ia langsung terpesona oleh seorang gadis mungil berwajah hati dan bermata cokelat besar yang menatapnya dengan kepercayaan penuh. Berhati-hati agar tidak membuat anak itu kaget, Lucien duduk di sebuah tong yang berdebu, tidak menghiraukan kesadarannya bahwa celananya akan kotor.
Gadis mungil itu menatap Lucien tanpa berkata-kata sebelum naik ke pangkuan Lucien dengan tenang lalu melahap kue tart persik yang ia genggam dengan jemarinya yang kotor. Secara naluriah Lucien memeluk anak itu ke tubuhnya, benar-benar dikejutkan oleh kehangatan yang meresapi hatinya karena sensasi yang ditimbulkan oleh tubuh mungil yang bersandar ke dadanya.
Ia tidak tahu berapalama mereka duduk di sana dalam kesunyian, tapi merasa ada yang memperhatikannnya, Lucien mengangkat kepala dan mendapati Miss Kingly sedang memandangnya dengan kaget.
"Apa kau sudah selesai di sini?" tanya Lucien pelan. Miss Kingly menganggukkan kepala sekilas "Sudah."
Membelai lembut rambut kusut anak itu, dengan berat hati Lucien menurunkannya dan memperhatikannya berlari menghampiri anak-anak yang lain.
Setelah itu barulah Lucien berdiri dan berjalan di sebelah Miss Kingly sementara wanita itu kembali menghampiri pintu dan keluar ke jalan.
Menyadari kalau Miss Kingly masih memandanginya dengan kaget , Lucien berhenti mendadak lalu menatap tajam mata wanita itu. "Ada apa?"
"Annie."
Lucien membutuhkan waktu sesaat untuk mengerti kalau yang dimaksud Miss Kingly adalah anak yang tadi ia pangku.  
"Itu namanya? gadis mungil yang memesona."
"Dia sangat takut pada orang dewasa. Malah, aku belumpernah diperbolehkan mendekatinya," Miss Kingly mengakui. 
Lucien tersenyum karena kebingungan Miss Kingly. Jelas Miss Kingly tidak memandangnya sebagai pria yang pandai menghadapi anak kecil.
"Mungkin dia luluh karena pesonaku," goda Lucien. "Wanita sukar menolak pesonaku, kau tahu?"
Senyum tanggung mengembang di bibir Miss Kingly. "Apapun alasannya, aku berterima kasih karena kau sudah membujuknya untuk menyantap makan malamnya. Walaupun anak-anak yang lebih besar berusaha semampu mungkin, dia kerap terabaikan."
Lucien mengangkat tangan untuk menangkup lembut dagu Miss Kingly. "Bersikap baik kepada anak-anak tidaklah sulit."
Miss Kingly bergidik samar karena sentuhan Lucien, dan debar jantung Lucien bertambah cepat sewaktu wanita itu menjulurkan lidah lalu menjilat bibir. "Kuharap semua orang berpendapat sama denganmu.Masih ada begitu banyak anak yang tidak mampu kujangkau."
Mendekat, Lucien membiarkan gairah yang sudah sangat lama dipendamnya mengalir di darahnya.
"Yang tadi itu itunsudah cukup untuk malam ini, Miss Kingly," ujar Lucien degan suara parau. "Kau sudah melaksanakan tugasmudan sekarang waktunya untuk memikirkan kegitan yang lebih menyenangkan."
Merasakan hawa panas yang tiba-tiba meliputi udara, mata Miss Kingly membelalak. "Kegiatan apa yang kau maksud?"
Lucien tergelak pelan. "Kau akan segera mengetahuinya, Miss Kingly."