Minggu, 01 November 2015


BAB III

 

Setelah menghabiskan waktu semalaman untuk memaki dirinya sendiri karena kebodohannya dalam menerima kesepakatan konyol Mr. Valin, Jocelyn terbangun dengan tekad untuk mengusir kebodohan itu dari benaknya. 
Jocelyn terguncang karena tahu Molly dibunuh secara biadab, dan anehnya gelisah dengan pertemuan Mr. Fallow. Pendeta asing itu memang memperlihatkan keberanian dan belas kasih dengan bergegas membantunya, tapi baginya kehadiran Mr. Fallow meresahkan dengan cara yang tidak mampu ia jelaskan.
Bahkan, ia hampir bertanya-tanya apakah ia lebih suka meghadapi para berandalan yang semalam sendirian. 
Singkatnya, malam tadi telah menjadi pengingat mengerikan tentang dunia biadab yang sekarang ia huni. Tidak heran rasanya kalau ia lengah dan memanipulasi dengan mudah untuk menerima kesepakatan licik itu. 
Sekarang ia hanya berusaha untuk memanfaatkan situasinya yang tidak menguntungkan dengan seanggun dan sebermartabat mungkin.
Jocelyn meringis masam saat duduk di balik meja di ruang kerjanya. Entah mengapa mempertahankan keanggunan serta martabat terasa sangat sulit di depan Mr. Valin. Pria itu terlalu kurang ajar, terlalu lancang, dan terlalu mempesona.Semangat Mr. Valin yang kurang sopan menjadi ancaman konstan bagi ketenangannya. 
Mengusir tegas semua lamunan tentang Mr. Valin dan Molly yanng malang, dengan berhati-hati Jocelyn memeriksa tagihan-tagihannya yang paling mendesak. Ada banyak yang bisa ia bayar dengan uang sewa yang sudah ia terima, dan yang lain bisa menunggu sampai tunjangan tiga bulannya keluar. Sisanya tidak banyak, tapi dengan bijaksana ia tahu ia bisa membeli makanan tambahan yang dibutuhkan untuk menolong anak-anak jalanan yang bergantung kepadanya.
Jocelyn sedang sibuk membuat daftar persediaan, ketika tiba-tiba Meg memasuki ruangan dengan kekesalan yang kentara jelas.
"Ada seorang pria yang ingin bertemu denganmu, Miss Jocelyn," tukas Meg dengan nada tidak suka. "Katanya dia seorang Runner."
"Seorang Runner?" Jocelyn bangun saking kagetnya. Meskipun petugas patroli kerap mengawasi jalan-jalan yang kumuh dengan sambil lalu, jarang seorang Bow Street Runner tertarik kepada tempat bernaung bagi manusia yang terlesip di jalan-jalan London yang lebih kelam. "Sebaiknya kau mempersilahkannya masuk, Meg."
Meg melipat tangan di depan dadanya yang besar sambil mendengus keras. "Aku memang tidak berhak menilai, tapi menurutku seorang pria yang seperti itu pasti punya urusan yang lebih penting daripada mengganggu gadis-gadis yang taat hukum dan meninggalkan kotoran di lantai yang barusaja ku gosok."
Jocelyn tidak kuasa menahan senyum simpulnya waktu mendengar nada jengkel Meg. Meg tidak pernah mendukung sepenuhnya keinginannya untuk tinggal di lingkungan seperti ini dan menolong orang lain. Dan Meg semakin tidak senang kalau dirinya dimanfaatkan. 
Meg jauh lebih protektif dari ibu mana pun.
"Dia pasti menganggap urusannya di sini penting," gumam Jocelyn.
Dengusan keras kembali terdengar. "Sebaiknya begitu. Kalau tidak, dia harus membersihkan lantainya sendiri." Dengan enggan Meg berbalik dan meninggalkan ruangan, mengentak-entakkan kaki dengan cara yang mengindikasikan bahwa ia ingin mengomeli sang tamu habis-habisan karena berani mengganggu Jocelyn. 
Mengitari meja, Jocelyn hanya menunggu sebentar sebelum pria besar yang ternyata masih muda dengan wajah ramah dan rambut ikal cokelat berantakan memasuki ruangan. Pria itu lebih mirip dengan seorang pemilik penginapan atau saudagar ketimbang seorang Runner yang berbahaya, dan Jocelyn mendapati kegelisahan yang sebelumnya ia rasakan surut ketika pria itu membungkuk dengan gagah.
"Maaf karena sudah mengganggumu Miss Kingly. Aku Mr. Ryan."
"Mr. Ryan." Jocelyn menganggukkan kepala. "Kalau tidak salah kau dari Bow Street."
Pria itu tersenyum penuh sesal. "Ah, itu benar, tapi jangan memusuhiku karenanya. Aku hanya seorang pria sederhana yang  semampu mungkin untuk mencari nafkah."
Jocelyn langsung merasakan kalau pria ini memanfaatkan sepenuhnya pesona kekana-kanakannya yang kuat. Bila bukan karena kilat kecerdasan di mata birunya, orang pasti mudah keliru mengenalinya sebagai pria yang gampang diperdaya.
Jocelyn hanya bisa bertanya-tanya, berapa banyak kriminal yang telah terpancing sampai mengakui jauh lebih banyak daripada yang seharusnya.
"Kau mau duduk?" tanya Jocelyn sambil duduk di pinggir kursi di dekat meja. Ia menunggu sampai Mr. Ryan menempatkan tubuh besar pria itu di kursi di seberangnya sebelum melanjutkan, "Apa yang bisa ku bantu?"
Untungnya Mr. Ryan langsung ke pokok masalah. "Aku sedang menyelidiki kematian Molly Chapwell." 
Jocelyn mengangkat sebelah tangannya ke dada. Kesedihannya masih terlalu segar untuk diabaikan. "Molly yang malang." 
Mr. Ryan mengangkat sebuah alisnya begitu mendengar kata-kata Jocelyn. "Kau sudah tahu dia dibunuh?"
"Pendeta Fallow yang memberi tahuku semalam." Jocelyn meringis sewaktu teringat kepada pria yang membuatnya ngeri itu. "Aku sedang mencari Molly kemarin."
"Ah, ya." Mr. Ryan mengusap rahangnya sambil berpikir. "Pendeta itu yang menemukan jasadnya."
"Katanya penyerangannya biadab."
Senyum Mr. Ryan sirna. "Aku tidak akan berbohong kepadamu Miss. Penyerangannya sangat mengerika."
Jocelyn bergidik, tidak mampu membayangkan seseorang tega melukai gadis sederhana yang baik hati itu, tidak peduli ia pelacur atau bukan. "Mengapa? Mengapa seseorang mau menyakiti Molly sampai sekeji itu?"
Mr. Ryan terdiam sejenak. "Sejujurnya, kuharap kau bisa menjawab pertanyaan itu."
"Aku?" balas Jocelyn kaget.
"Kau mengenalnya?"
"Hanya dari jalanan." Tanpa disadari, Jocelyn menghela napas. "Aku berusaha membujuknya meninggalkan kehidupannya sebagai seorang pelacur dan pindah ke properti kecil milikku di luar London. Sayangnya dia tidak menggubris permintaanku. Sekarang sudah terlambat."
"Kau tidak tahu menahu apakah ada orang yang membuatnya takut?" desak Mr. Ryan.
Selama sesaat Jocelyn mengingat suami Molly si pemabuk, yang sering membuat mata Molly memar. Jelas pria itu kasar. Namun Jocelyn tidak percaya kalau suami Molly sudi kehilangan satu-satunya sumber pemasukannya. Pria itu memang keji, tapi juga benar-benar bodoh.
"Dia tidak memberitahuku, " akhirnya Jocelyn mengaku.
"Apa dia akan mencarimu kalau mendapati dirinya dalam bahaya?"
Pertanyaan tersebut mengejutkan Jocelyn. Apakah Molly akan mencarinya jika membutuhkan bantuan?
"Entahlah, mungkin." Jocelyn mengangkat tangannya. "Mengapa kau bertanya?"
"Karena ini ditemukan dalam genggamannya." Mr. Ryan mencondongkan ke depan untuk menjejalkan selembar kertas kusut ke Jocelyn.
Terkejut, Jocelyn menunduk dan melihat namanya yang ditulis dengan tulisan cakar ayam di kertas sobek itu. 
"Ada namaku di sini," enggah jocelyn kaget, kemudian alisnya menyambung saking kagetnya ia. "Tapi...."
"Ada apa?"
Dengan perlahan Jocelyn mengangkat pandangannya untuk membalas tatapan mantap Mr. Ryan, "Molly tidak bisa membaca ataupun menulis." 
Mata biru itu disipitkan karena ada pekikan mendadak Jocelyn. "Cerdas sekali, Miss Kingly. Aku juga sudah menduganya."
Jocelyn tidak bisa menahan diri agar tidak bergidik hebat. Mengetahui bahwa seorang kenalan telah dibunuh secara brutal saja sudah cukup meresahkan. Mendapati bahwa ia sedang menggenggam kertas yang bertuliskan namanya membuat kengeriannya bertambah hebat. Tiba-tiba saja pembunuhan Molly terasa sangat pribadi.
 "Mengapa ada namaku di kertas yang ia genggam?" bisik Jocelyn.
 Mr. Ryan menatap Jocelyn dengan muram. "Sepertinya ada dua kemungkinan. Entah dia menerima kertas ini untuk tujuan yang tidak diketahui. Atau...."
"Apa?"
"Atau kertas ini dijejalkan ke tangannya setelah dia dibunuh."
Jocelyn menjatuhkan kertas itu ke lantai, tanpa disadari menggosok-gosokkan jemarinya ke rok, seolah ingin membersihkan ancaman yang menggelenyar di sekelilingnya. "Mengapa? Untuk tujuan apa?"
Pria besar itu meringis. "Entahlah."
"Oh, Tuhan," engah Jocelyn, merasa lebih gelisah daripada yang ingin ia akui.
"Aku menyampaikan ini kepadamu hanya karena aku yakin kau harus berhati-hati, Miss Kingly. Mungkin kegiatanmu di tengah kaum yang kurang beruntung telah menjadikanmu musuh yang berbahaya."
Dengan bersusah payah Jocelyn menenangkan diri. Ia tidak mau panik sampai menelantarkan orang-orang yang bergantung kepada sokongannya. Toh ia juga ketakutan saat baru mendiami rumah yang sangat dekat dengan rumah-rumah bordil ini. Dan lebih ketakutan lagi ketika menyusuri jalan malam-malam untuk pertama kalinya. Apapun yang terjadi akan ia hadapi dengan berani, bukan dengan meringkuk di balik pintu. 
"Konyol sekali, tukas Jocelyn singkat. "Yang kulakukan hanyalah menawarkan harapan kepada mereka yang tidak memilikinya."
"Selalu ada yang diuntungkan dari penderitaan orang lain," cetus Mr. Ryan dengan penuh peringatan. "Mereka pasti tidak menyukai campur tanganmu."
Jocelyn tidak bisa membantah kebenaran dari kata-kata Mr. Ryan. Selalu ada orang yang seperti suami Molly. Juga pria-pria mengerikan yang menjual anak-anak ke rumah bordil. Jocelyn yakin beberapa orang mengutuki namanya. Bahkan ingin menyingkirkannya di jalan-jalan. 
Tapi masih banyak orang yang menganggapnya penyelamat mereka dari kelaparan atau keadaan yang lebih buruk lagi. 
"Jangan memintaku menghentikan upayaku , Mr. Ryan," ucap Jocelyn pelan. "Tidak ada gunanya." 
Mr. Ryan tersenyum perlahan, seakan sudah menduga respon teguh Jocelyn. "Aku hanya memintamu mengingat bahwa apa yang kau lakukan bisa mengundang bahaya. Dan jangan abaikan sesuatu yang janggal kalau kau sedang berada di jalanan."
Jocelyn berdiri, mengangguk sepintas, "Baiklah." 
Bangkit berdiri, sang Runner membiarkan kebulatan tekadnya mengusir keceriaannya. 
"Jangan takut," Mr. Ryan menenangkan Jocelyn dengan nada tegas. "Kami akan segera menyeret monster itu ke Newgate."
Jocelyn tidak ragu barang sedetik pun kalau pria ini akan mencari si pembunuh tanpa kenal lelah. Tidak seperti kebanyakan orang, Mr. Ryan tidak mencibir waktu berbicara tentang Molly, atau menekankan fakta bahwa Molly hanya seorang pelacur. Alih-alih , ada tekad bulat yang terukir di wajahnya. 
"Kuharap begitu. Dia harus dihukum atas apa yang dia lakukan kepada Molly yang malang."
"Pasti. Tapi sebelum itu terjadi, tolong berhati-hati."
"Ya, pasti."
"Kalau begitu, selamat siang." Setelah membungkuk, Mr. Ryan membalikkan badan lalu meninggalkan ruangan.
Jocelyn tetap berdiri sambil merenungkan kunjungan tak terduga barusan. Ia bertekad untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap pengumuman bahwa Molly menggenggam kertas yang bertuliskan namanya. Bisa ada selusin penjelasan. Bodoh rasanya menghantui dirinya sendiri, ia tidak bisa menyangkal gejolak kelegaan yang tak terduga karena Mr. Valin bisa menjadi pelindung yang cakap. 
Dan setidaknya dalam waktu dekat ini ia tidak akan sendirian.

***
Kereta kuda sewaan itu berhenti di balik bayangan-bayangan St. Giles. Dengan berhati-hati Lucien membantu Miss Kingly turun, lengkap dengan keranjang besar yang bersikeras wanita itu bawa. Lucien agak kaget waktu Miss kingly tidak memprotes tekadnya untuk menemani gadis itu ke jalan malam ini, dan ia hanya bisa bertanya-tanya tentang apa yang terjadi dengan sang  Runner tadi siang. 
Jelas ada yang membuat Miss Kingly cukup resah hingga rela menurunkan harga diri sampai bersedia menerima bantuannya. Dan walaupun lega karena tidak perlu berdebat panjang lebar, Lucien tidak dapat menahan diri untuk memikirkan bahaya apa yang wanita itu hadapi.
Apa pun itu, sebaiknya ia waspada, Lucien menenangkan dirinya sendiri dengan tegas, pandangannya tertuju pada garis-garis halus pada wajah Miss Kingly. Betapapun tangguhnya Miss Kingly menganggap dirinya sendiri, Lucien tahu wanita itu tidak akan siap menghadapi apa yang sekarang memburunya. 
Tidak ada makhluk fana, betapapun berani dan gigihnya ia, yang siap menghadapi seorang vampir. 
Seolah merasakan kecemasan Lucien tapi keliru manafsirkan penyebabnya, Miss Kingly memandangnya sambil mengangkat alis. "Apa tekadmu sudah bulat?"
Lucien tersenyum seraya menggamit tangan Miss Kingly dengan mantap lalu meletakkan di lengannya. "Sangat bulat, Merpatiku. Aku akan berada di sisimu setiap malam kau menyusuri jalan., dan bahkan membayar keistimewaan ini."
Jocelyn mengangkat bahu sekilas, tapi ia tidak bisa menyembunyikan kelegaannya sepenuhnya. "Itu uangmu, jadi terserah kau saja."
"Benar. Dan akan segera menjadi uangmu."
"Ya." Jocelyn mengarahkan pandangannya ke jalan yang gelap. "Kita ke sana."
Lucien mengangguk, tapi sebelum ia melangkah, gelenyar yang sudah familier merambat di punggungnya. Ia menegang, memeriksa kegelapan dengan benaknya unutk mencari sumber kedengkian yang hampir terasa jelas di udara. Ia membutuhkan waktu sesaat untuk menemukan vampir yang ia cari di gang di sekitar situ, lalu dengan segan ia mengangkat tangan Miss Kingly dari lengannya.
"Sebentar, My Dear"
Miss Kingly menoleh ke Lucien dengan kaget. "Ada apa?"
"Tetaplah di sini, jangan ke mana-mana."
"Mr. Valin, kau mau ke mana?" desak Miss Kingly dengan nada tidak sabar.
"Menyingkirkan pengganggu." Mengeluarkan belati dari balik jasnya, Lucien menyusuri jalan dengan gesit lalu menyelinap ke dalam gang. Ia menghadapi kabut perak itu dengan dahi yang dikerutkan. "Tampakkan dirimu, Amadeus."
Dengan gelak tawa yang menyeramkan, kabut berputar, membentuk sosok pendeta yang tidak mencolok. 
"Sekadar menjaga propertiku, Lucien. Kita sama-sama tidak mau terjadi sesuatu pada Medalion."
Lucien menyipitkan mata saking muaknya. "Aku berniat untuk menjaga Miss Kingly baik-baik. Kekhawatiranmu tak beralaskan."
Amadeus mendecakkan lidahnya dengan tidak sabaran. "Wanita itu tidak berarti. Yang menarik bagiku hanyalah kekuatan yang tanpa sadar dia pendam. Selama dia memiliki Medalion, aku akan berada di dekatnya."
Lucien tidak menyangsikan ancaman tersebut barang sedetik pun. Amadeus mempunyai satu tujuan yang akan membuatnya tak berbelas kasihan demi merebut Medalion.
"Medalion tidak akan pernah menjadi milikmu," janji Lucien pelan.
Lagi-lagi Amadeus tergelak, ekspresinya mencemooh sewaktu ia memandang Lucien. "Medalion akan menjadi milikku dalam waktu sebulan. Tidak ada yang bisa kau lakukan untuk menghentikanku. "
Lucien menggenggam erat belati di tangannya. "Apa kau mau membereskannya sekarang?"
"Sekarang? Itu sama sekali tidak logis." jawab Amadeus. "Moment untuk menjalankan rencanaku belum tiba."
Rencana? Lucien merasakan gejolak keresahan. Ia benar-benar tidak suka mengetahui bahwa vampir lihai itu sedang dengan sabar menyusun siasat secara diam-diam.
Amadeus licik dan sangat keji. Yang paling parah, sepertinya ia tidak mudah di bujuk untuk melupakan hasrat menggepunya akan kekuasaan.
"Aku tidak mau memusnahkanmu, Amadeus," ujar Lucien dengan nada muram, keseganannya terlihat jelas. "Tapi akan ku lakukan kalau memang harus."
"Kau?" Amadeus melangkah maju,matanya berkilat geli. "Beberapa hari lagi kau pastia akan jenuh dengan peranmu sebagai kesatria gagah berani dan mencari hiburan yang lebih menarik. Kau tidak pernah pantas menjadi vampir sejati."
Tuduhan itu memukul telak. Tidak dapat dipungkiri kalau ada banyak vampir yang memandang Lucien lebih sebagai pengganggu daripada saudara. Bahkan Dewan Agung pernah menegurnya akibat pembawaanya yang serampangan dan tanggung jawabnya yang kurang. 
Dan mungkin, di lubuk hatinya ada secercah keraguan bahwa ia pantas melaksanakan tugas besar yang di bebankan kepadanya. Suatu tugas yang lebih baik diserahkan kepada vampir yang jauh lebih layak.
Akan tetapi, ia tidak akan memperlihatkan kelemahan apapun di depan Amadeus.
"Aku tidak akan gagal," janji Lucien lembut. "Tidak akan."
"Tentu saja kau akan gagal," ejek Amadeus. Itu tidak bisa dihindari lagi seperti keberhasilanku yang tidak bisa diragukan lagi. Aku selalu menang. Temanku yang malang. Sebaiknya kau tidak mengganggu ku."
Udara di sekitar vampir itu tiba-tiba gemerlapan, dan dalam sekejap mata Amadeus sudah berubah menjadi seekor anjing hitam besar. Dengan satu lompatan kuat ia melewati Lucien dan berlari di jalan.
Sambil mengumpat, Lucien berbalik untuk mengikuti, tapi ketika ia meninggalkan gang, sosok ramping Miss Kingly muncul dari balik bayangan.
"Mr. valin."
Lucien meringis tidak sabar, tahu ia tidak bisa meninggalkan gadis itu untuk mengejar vampir itu. Amadeus bukan satu-satunya bahaya yang mengancam di jalan-jalan gelap.
Meredam hasrat menggebunya untuk mencari tahu apa sebenarnya yang direncanakan oleh penghianat, Lucien memandang wajah pucat Miss kingly sambil mengangkat sebelah alisnya. "Rasanya aku sudah memintamu untuk tidak ke mana-mana."
Harga diri Miss Kingly langsung terluka oleh kata-kata tegas Lucien. "Aku tidak wajib mematuhi perintahmu, Mr. valin."
Kekesalan Lucien langsung sirna karena tantangan kaku Miss Kingly, lalu seulas senyum mengembang di bibirnya saat ia mengulurkan lengannya. "Aku tahu. Kita berangkat."
Terjadi keheningan sejenak sebelum akhirnya Miss Kingly meletakkan jemarinya di lengan Lucien. "Apa yang kau lakukan tadi?"
Lucien meringis, masih bisa merasakan kedengkian yang mencekik lemah. "Bercakap-cakap dengan seorang teman lama."
"Seorang teman?" Mata Miss Kingly langsung disipitkan. "Di lingkungan ini?"
Lucien langsung tertawa begitu menyadari arah pemikiran Miss Kingly. "Berhentilah memelototiku dengan sorot mencela seperti itu. Temanku bukan wanita malang yang berasal dari rumah bordil. Yang tadi itu seorang kenalan dari kampung halamanku."
Secercah rona mewarnai pipi Miss Kingly begitu ia menyadari bahwa ia langsung menarik kesimpulan barusan, tapi tatapannya tetap mantap. "Di mana kampung halamanmu?"
Lucien mengangkat bahu. "Sekarang ini di loteng rumahmu."
"Bukan itu maksudku."
"Bukan?"
"Bukan."
Meskipun tidak yakin ia bisa menyimpan rahasianya selamanya, Lucien tidak akan mengakui yang sebenarnya sebelum membuktikan kepada Miss Kingly bahwa wanita itu bisa mempercayainya.
"Kurasa kita harus menjalankan rencana kita. Malam sudah semakin larut."
Miss Kingly mengerutkan dahi karena ketenangan Lucien. "Apa yang kau sembunyikan?"
"Semua ada waktunya, My Dear. Saat ini menurutku kita harus berkonsentrasi pada apa yang kita rencanakan malam ini." 
Mungkin merasakan bahwa Lucien tidak akan memuaskan rasa penasarannya sekarang, akhirnya Miss Kingly memelototi Lucien dengan tajam, sekali lagi sebelum menganggukkan kepala dengan segan. "Terserah kau saja. Lewat sini."
Membiarkan Miss Kingly memimpin jalan, Lucien terus mengawasi sejumlah pemabuk dan berandalan yang berjalan sempoyongan dari bar-bar lokal. Lebih dari satu yang membiarkan pandangan penuh nafsu mereka berlama-lama tertuju ke gadis cantik di sebelah Lucien, tetapi melihat wajah siaga Lucien sekali saja sudah cukup untuk meyakinkan mereka agar beralih ke permainan yang tidak terlalu berbahaya. 
Lucien sangat bersungguh-sungguh menjaga kewaspadaannya sampai-sampai ia hampir menabrak Miss Kingly ketika wanita itu berhenti mendadak di depan sebuah bangunan yang sudah hampir roboh. 
"Gudang kosong?" tanya Lucien bingung.
"Gudangnya tidak kosong." Miss Kingly berjalan menuju sebuah pintu sempit. "Ayo, tapi tetaplah waspada."
Lucien tersenyum sendu mendengar peringatan gadis itu. "Aku selalu waspada, merpatiku."
Sampai di pintu, Miss Kingly mengetuk pintu kayu yang sudah terbelah kuat-kuat. Dari dalam terdengar suara yang teredam. "Siapa itu?"
"Ini Miss Kingly."
Terjadi keheningan sebentar. "Apa kau tahu kata sandinya?"
"Thomas," sahut Miss Kingly dengan nada tegas.
"Maaf, bukan itu."
"Thomas, buka pintunya sekarang juga."
Dengan cepat pintu dibuka, memperlihatkan seorang anak jalanan dengan wajah bulat dan kotor serta pakaian yang terlalu besar untuk tubuh kurusnya. 
"Hanya bersenang-senang sedikit, Miss Kingly," ujar anak itu sambil tersenyum nakal.
"Mmm. Rasanya aku ingin memberikan kue tart persikmu ke anak lain."
Anak itu tidak kelihatan takut dengan ancaman tersebut. Malah, senyumnya bertambah lebar.
"Aduh, kau kan tahu aku ini kesayanganmu, Miss Kingly."
Miss Kingly mendecakkan lidah dengan gaya mencela , tapi kilat geli di matanya terlihat jelas. 
"Kau anak nakal."
"Ya, tapi anak nakal yang menggemaskan."
Miss Kingly tergelak sembari merogoh keranjang yang ia bawa untuk mengeluarkan sebuah tas kecil. "Apa ada yang cidera?"
"Freddie terluka sedikit semalam, jawab Thomas, senyumnya sirna.
"Dia di mana?"
"Di pojok"
"Ini." Miss Kingly menyerahkan keranjangnya kepada anak lelaki itu. "Beri makan yang paling kecil terlebih dahulu."
"Baik, Kapten." Anak jalanan itu langsung menurut, membalikkan badan untuk bergegas melewati pintu. 
 Berdampingan dengan Miss Kingly, Lucien memasuki interior gudang yang kotor dan gelap. Ia berhenti sebentar begitu bau selokan dan makanan  busuk akan mengancam akan membuat indra-indranya yang peka kewalahan. Demi Nefri yang Agung, tempat ini seperti lubang jamban.
Dorongan kuat untuk menyambar Miss Kingly dan membawa wanita itu meninggalkan tempat mengerikan ini mendera Lucien. Tidak ada gadis yang boleh terekspos kepada lingkungan sekumuh ini. Tapi saat pikiran tersebut melintas dibenaknya, pandangannya tertuju ke kelompok anak-anak yang berdesak-desakan mengerumuni Thomas dan keranjang makanan tadi. Jumlah mereka setidaknya dua puluh orang dengan usia yang berkisar dari enam belas sampai..... beberapa anak itu pasti tidak lebih dari lima tahun. Hati Lucien tersentuh karena menyadari bahwa mereka telah dibuang ke jalanan seolah mereka tidak lebih dari sampah. 
Tidak mengherankan kalau Miss Kingly tidak mampu mengabaikan penderitaan sebesar ini, batin Lucien, menoleh untuk memperhatikan Miss Kingly sementara wanita itu menghampiri sesosok tubuh kecil yang meringkuk di pojok seberang.
Tidak bisa dipercaya rasanya ada makhluk berhati nurani yang bisa membiarkan penderitaan sebesar itu ada. 
Tidak yakin apakah ia perlu menyusul Miss Kingly dan mengambil risiko membuat anak yang cedera itu ketakutan, Lucien berhenti begitu sesosok tangan kecil, tiba-tiba menggenggam jemarinya. 
Menunduk, ia langsung terpesona oleh seorang gadis mungil berwajah hati dan bermata cokelat besar yang menatapnya dengan kepercayaan penuh. Berhati-hati agar tidak membuat anak itu kaget, Lucien duduk di sebuah tong yang berdebu, tidak menghiraukan kesadarannya bahwa celananya akan kotor.
Gadis mungil itu menatap Lucien tanpa berkata-kata sebelum naik ke pangkuan Lucien dengan tenang lalu melahap kue tart persik yang ia genggam dengan jemarinya yang kotor. Secara naluriah Lucien memeluk anak itu ke tubuhnya, benar-benar dikejutkan oleh kehangatan yang meresapi hatinya karena sensasi yang ditimbulkan oleh tubuh mungil yang bersandar ke dadanya.
Ia tidak tahu berapalama mereka duduk di sana dalam kesunyian, tapi merasa ada yang memperhatikannnya, Lucien mengangkat kepala dan mendapati Miss Kingly sedang memandangnya dengan kaget.
"Apa kau sudah selesai di sini?" tanya Lucien pelan. Miss Kingly menganggukkan kepala sekilas "Sudah."
Membelai lembut rambut kusut anak itu, dengan berat hati Lucien menurunkannya dan memperhatikannya berlari menghampiri anak-anak yang lain.
Setelah itu barulah Lucien berdiri dan berjalan di sebelah Miss Kingly sementara wanita itu kembali menghampiri pintu dan keluar ke jalan.
Menyadari kalau Miss Kingly masih memandanginya dengan kaget , Lucien berhenti mendadak lalu menatap tajam mata wanita itu. "Ada apa?"
"Annie."
Lucien membutuhkan waktu sesaat untuk mengerti kalau yang dimaksud Miss Kingly adalah anak yang tadi ia pangku.  
"Itu namanya? gadis mungil yang memesona."
"Dia sangat takut pada orang dewasa. Malah, aku belumpernah diperbolehkan mendekatinya," Miss Kingly mengakui. 
Lucien tersenyum karena kebingungan Miss Kingly. Jelas Miss Kingly tidak memandangnya sebagai pria yang pandai menghadapi anak kecil.
"Mungkin dia luluh karena pesonaku," goda Lucien. "Wanita sukar menolak pesonaku, kau tahu?"
Senyum tanggung mengembang di bibir Miss Kingly. "Apapun alasannya, aku berterima kasih karena kau sudah membujuknya untuk menyantap makan malamnya. Walaupun anak-anak yang lebih besar berusaha semampu mungkin, dia kerap terabaikan."
Lucien mengangkat tangan untuk menangkup lembut dagu Miss Kingly. "Bersikap baik kepada anak-anak tidaklah sulit."
Miss Kingly bergidik samar karena sentuhan Lucien, dan debar jantung Lucien bertambah cepat sewaktu wanita itu menjulurkan lidah lalu menjilat bibir. "Kuharap semua orang berpendapat sama denganmu.Masih ada begitu banyak anak yang tidak mampu kujangkau."
Mendekat, Lucien membiarkan gairah yang sudah sangat lama dipendamnya mengalir di darahnya.
"Yang tadi itu itunsudah cukup untuk malam ini, Miss Kingly," ujar Lucien degan suara parau. "Kau sudah melaksanakan tugasmudan sekarang waktunya untuk memikirkan kegitan yang lebih menyenangkan."
Merasakan hawa panas yang tiba-tiba meliputi udara, mata Miss Kingly membelalak. "Kegiatan apa yang kau maksud?"
Lucien tergelak pelan. "Kau akan segera mengetahuinya, Miss Kingly."

 

 

Selasa, 15 September 2015

BAB II


BAB II

Amadeus mengikuti wanita itu dengan tenang. Tetap bersembunyi di balik bayangan toko-toko dan penginapan-penginapan yang sudah ditinggalkan, ia berjalan mantap sementara wanita itu mencari pelacur yang memiliki nama Molly.
 Sudah hampir dua minggu Amadeus mengamati gerak-gerik wanita ini.
Amadeus tahu persis kapan wanita itu keluar rumah setiap malam. Kapan wanita itu membawakan makanan untuk anak-anak jalanan. Kapan wanita itu mencari pelacur-pelacur yang menyedihkan dan membujuk mereka untuk meninggalkan kehidupan mereka yang penuh derita lalu pergi ke pondok kecil yang sudah ia beli di luar kota. Amadeus bahkan tahu malam ini wanita itu akan mencari Molly muda yang malang seperti yang ia lakukan pada setiap Rabu malam. Dengan sia-sia wanita itu akan memohon agar si pelacur meninggalkan suami kasar yang memaksanya menjajakan diri di jalan demi membelikan pria itu gin.
Itulah sebabnya Amadeus menghabisi si pelacur dan mengerahkan kaki tangannya untuk bersembunyi di sudut.
Kebiasaan Miss Kingly akan menjadi kehancurannya.
Bersiul nyaring, Amadeus memperhatikan ketiga pelayannya yang kotor terhuyung-huyung mengitari sudut dan mengerumuni gadis yang tidak tahu apa-apa itu.
Sesuai perintah Amadeus, ketiga pria tersebut langsung menyambar Miss Kingly dan menutup mulutnya agar ia tidak menjerit takut. Amadeus menunggu sebentar untuk mamastikan Miss Kingly sudah cukup ketakutan akibat serangan mendadak itu sebelum melangkah maju guna merampungkan siasatnya yang telah direncanakan dengan baik.
Hanya untuk berhenti saking kagetnya.
Dengan kekaguman yang tak terduga. Amadeus memperhatikan Miss Kingly yang meronta sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari para penyerang yang gigih.
Tidak ada air mata, tidak pingsan, tidak ada tanda-tanda kepanikan.
Alih-alih, Miss Kingly menendangi ketiga pria itu dengan berani, menggunakan tangan dan bahkan sikunya demi memenangi kebebasannya.
Wanita itu berbeda.
Rasa penasaran yang tajam dan tak terduga bangkit di kedalaman jiwa Amadeus yang sedingin es.
Sebagai seorang cendikiawan sejati, ia terlalu tertarik kepada segala sesuatu yang tak terduga. Apalagi kalau sudah berurusan dengan makhluk fana. Bukan karena panasnya gairah mereka, juga cinta dana kebencian mereka yang menjemukan. Kefanaan mereka sematalah yang menggugah ketertarikan Amadeus. Mungkin setelah mendapatkan Medalion yang sekarang Miss Kingly kenakan di leher, ia akan mengizinkan wanita itu menjadi bagian dari riset berkelanjutannya.
Miss Kingly apasti meningkatkan mutu dari kelompok manusia yang sedang ia pelajari, pikir Amadeus. Tentu saja, sebelumnya ia harus memastikan Medalion harus diserahkan ke dalam genggamannya.
Dengan gerakan yang sudah diperhitungkan, Amadeus kembali berjalan menuju gadis yang tengah meronta itu. Sesampainya di dekat anak buahnya yang pertama, ia mengangkat tongkat eboni yang ia bawa lalu memukul bahu pria itu. Pria itu meringis, padahal ia tidak merasa sakit akibat mantera Pemaksa yang Amadeus rapal untuknya. 
 "Enyahlah, dasar setan." perintah Amadeus dengan dramatis, memukul kedua pelayannya yang lain dengan kuat-kuat. "Patroli sedang ke sini, dan kalian akan segera dijebloskan ke Newgate."
Begitu mendengar kata Newgate, ketiga pelayan itu langsung menghentika serangan mereka lalu membalikkan badan dan terhuyung-huyung menyusuri jalan yang gelap.
Mungkin mata yang awas akan melihat betapa mudahnya mereka digertak oleh ancaman Amadeus, atau bahkan cara berjalan mereka yang sempoyongan saat mereka bergegas pergi, tapi untungnya gadis itu terlalu sibuk melilitkan syal ke tubuhnya untuk menutupi koyakan besar pada korset gaunnya.
"My Dear apa kau terluka?" tanya Amadeus dengan nada lembutyang sesuai dengan citra seorang pendeta sopan yang berniat baik. Ia memilih suara itu dengan berhati-hati sebagaimana dia merubah wujudnya menjadi seorang pria tua ramping yang rambut berubannya sudah hampir rontok semua dan memilliki wajah seorang pria yang mengabdi kepada kebaikan. Persis jenis pria yang akan dicari Miss Kingly saat berada dalam masalah.
Dan Miss Kingly akan segera berada dalam masalah besar.
"Tidak." Miss Kingly rambut gelap yang terlepas dari sanggul rapinya. "Aku tidak terluka." Diam-diam Amadeus memperhatikan suara mantap dan ketenangan Miss Kingly. Oh, ya , wanita itu memang pantas dijadikan objek eksperima.
Amadeus sudah tidak sabar untuk membawa Miss Kingly ke sarang ke sarang tersembunyinya dan memulai eksperimen, namun ketika Miss Kingly membalikkan badan, cahaya temaram dari bar di dekat situ membuat jimat keemasan yang menggantung di leher wanita itu mengilat. 
Napas Amadeus tertahan.
Walaupun hanya berupa bagian dari Medalion yang asli, Amadeus yakin jimat itu mengandung kekuatan yang lebih besar daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya. Laliu setelah utuh kembali, ia dan rekan-rekan pengkhianatnya akan memerintah para vampir. Mereka akhirnya akan tunduk pada kehendaknya.
 Sayangnya ia mendapati bahwa Medalion dilindungi oleh suatu mantera yang kuat. Artefak tersebut diikat ke jiwa si makhluk fana, menjadikan wanita itu kebal terhadap mantera Pemaksa dan mantera apapun yang bisa Amadeus gunakan. Maut pun tidak sanggup memisahkan Medalion dari gadis itu.
Satu-satunya harapan bagi Amadeus untuk mendapatkan artefak kuno tersebut adalah bila medalion diberikan kepadanya atas kehendak Miss Kingly.
Karena itulah ia terpaksa menyusun siasat konyol ini. Ia harus memenangi kepercayaan Miss Kingly dan entah bagaimana meyakinkan Miss Kingly bahwa wanita itu harus menyerahkan jimat itu kepadanya.
"Puji Tuhan." ucap Amadeus sembari tersenyum menenangkan kepada Miss Kingly. "Aku takut aku sudah terlambat." Terlepas dari sikap sopan Amadeus, sepertinya Miss Kingly secara naluriah merasakan bahaya yang mengancam di udara, dan ia mundur selangkah sambil berusaha untuk tampak berterimakasih atas keberanian yang Amadeus tunjukkan.
"Kau berani sekali."
Amadeus meletakkan tangannya di dada dengan gaya sopan. "Kau terlalu memuji, aku hanya melakukan yang dilakukan oleh pria mana pun yang berada dalam posisiku."
Miss Kingly menoleh ke arah sosok-sosok yang sempoyongan dan menghilang di gang dekat situ. "Sayangnya, tidak semua pria."
"Yah, mungkin kau benar," Amadeus membenarkan dengan penuh sesal. "Jalanan memang berbahaya bagi gadis muda yang sendirian. Boleh ku antar pulang?"
Secara tak terduga, Miss Kingly menegakkan bahunya. "Terima kasih tapi itu tidak perlu."
Amadeus tertegun. Walaupun ia menganggap keberanian Miss Kingly menarik, tidak akan membantu bagi rencananya kalau Miss Kingly semandiri itu. Dengan susah payah ia mengendalikan gejolak ketidak sabarannya. Ia Makhluk Abadi. Ia sudah belajar kalau kesabaran adalah sebuah kebajikan yang tidak boleh dianggap remeh. 
"Apa kau yakin?" bujuk Amadeus. "Mungkin aku berhasil menakut-nakuti berandalan itu untuk sementara, tapi tidak akan ada yang tahu kapan mereka kembali. Lagi pula, mereka, sayangnya bukan satu-satunya bajingan yang ingin menyakiti seorang gadis."
Miss Kingly memegangi syal yang dililitkan ke tubuhnya. "Tempat tinggalku tidak jauh."
"Tidak perlu jauh-jauh untuk terjerumus ke dalam bahaya di lingkungan seperti ini."
"Aku sudah biasa melewati jalan-jalan ini sendirian," sahut Miss Kingly, meskioun Amadeus melihat bagaimana pandangan gadis itu tertuju ke kegelapan yang sekarang sepi. 
"Ah, tapi malam ini itu tidak perlu. Aku bersikeras menawarkan lengan serta dampinganku. "Amadeus mengulurkan lengannya, tapi lagi-lagi Miss Kingly mundur menghindari sosoknya yang mendekat. Ia bertanya sejenak apakah entah bagaimana Medalion memberi Miss Kingly kemampuan untuk merasakan fakta bahwa ia bukan makhluk fana. Atau bahkan mungkin untuk merasakan niat busuknya. Itu komplikasi yang tidak berhasil memulihkan kesabarannya yang sudah hampir habis. 
"Kau baik seklai, Mr...?"
"Pendeta Fallow." Amadeus membungkuk rendah-rendah, berhati-hati untuk memastikan ekspresinya tetap tenang. Kalaupun merasakan sesuatu yang tidak wajar tentang dirinya, Miss Kingly tidak tahu menahu tentang maknanya. Atau bahaya yang mengancam di baliknya. "Dan aku?"
"Miss Kingly."
"Senang berkenalan denganmu."
"Denganmu juga, Sir. Tapi ada tugas yang harus kurampungkan malam ini, jadi permisi dulu."
Menyadari bahwa Miss Kingly akan terlepas dari genggamannya, Amadeus mencegat wanita itu dengan gesit. "Boleh kutawarkan bantuanku untuk merampungkan tugasmu itu?"
Di paksa berhenti Miss Kingly hampir tidak bisa menyembunyikan gejolak kesabarannya. "aku hanya ingin bicara dengan Molly."
"Molly?"
"Biasanya dia selalu bisa dijumpai di jalan ini."
Amadeus mengangkat sebelah tangannya ke dada lalu menggelengkan kepalanya dengan sendu. "Oh, My Dear."
Miss Kingly mengerutkan dahi melihat ekspresi sedih yang mendadak meliputi wajah Amadeus. "Ada apa?"
"Apa si Molly ini berambut merah dan wajahnya berbintik-bintik?"
"Apa kau melihatnya?"
"Sayangnya begitu."
Melupakan kejengkelannya kepada Amadeus. Miss Kingly tiba-tiba melangkah maju. "Ada apa?'
Amadeus berpura-pura mempertimbangkan masalah itu sebentar sebelum bicara. "Aku tidak tahu bagaimana aku harus menyampaikan kabar ini kepadamu, tapi dia ditemukan di gang di dekat sini setengah jam yang lalu."
Tangan Miss Kingly diangkat meraih Medalion yang tergantung pada rantai seperti mencari kekuatan. 
"Ditemukan? Apa maksudmu ditemukan?"
Amadeus mengingat sejenak kenikmatan yang ia rasakan saat menghisap daya kehidupan dari pelacur yang meronta ketakutan itu. Ia, melakukannya cepat-cepat, tanpa kepiawaian khasnya, tapi darah wanita itu masih mengalir deras di tubuhnya dengan kekuatan yang dahsyat. 
"Dia dibunuh," tukas Amadeus singkat.
Sesuai dugaan, mata Miss Kingly membelalak penuh kengerian dan kekagetan. Manusia bisa saling terikat dengan cara yang tidak masuk akal.

"Oh, Tuhan," engah Miss Kingly.
"Mengejutkan, aku tahu" Amadeus bersimpati.
"Apa kau yakin itu Molly?"
Amadeus menghela napas dalam-dalam. "Sayangnya, aku yang menemukan jasadnya."
Terjadi keheningan sejenak waktu Miss Kingly berusaha menerima berita buruk tentang temannya, kemudian tiba-tiba ia menegakkan bahu dengan ketabahan yang patut di puji. "Ke mana mereka membawanya?"
Lagi-lagi Miss kingly berhasil mengejutkan Amadeus dengan menunjukkan keberaniannya. Alis Amadeus terangkat karena kata-kata tegas gadis itu.
"Tidak, kau tidak boleh melihatnya."
"My Dear itu sama sekali tidak bijaksana."
Ekspresi Miss Kingly menegang penuh tekad. "Aku tidak memusingkan kebijaksanaan. Dia memang pelacur , tapi aku perduli kepadanya." Kesempatan itulah yang sedari tadi Amadeus nantikan. Ia akan menunjukkan betapa baik dan penuh belas kasihnya dirinya.
"Sikap yang terpuji My Dear, dan aku amat mengagumi kemurahan hatimu. Aku sendiri sudah berikrar untuk mengabdikan hidup untuk membantu orang-orang yang malang yang setiap malam berjuang demi mempertahankan hidup semata. Akan tetapi, keinginanku untuk mencegahmu menyusul anak malang itu berakar dari kesadaran bahwa kau pasti sangat terguncang akibat serangan yang mengerikan terhadapnya. Pembunuhnya sangat biadab."
Miss Kingky memucat begitu mendengar kata-kata lembut Amadeus, tangannya gemetar sewaktu memegangi syalnya. "Oh."
"Sebaiknya kau pulang."
Jelas terguncang karena akhir hidup Molly yang tak terduga, wanita tangguh itu menganggukkan kepala dengan berat hati. "Ya, mungkin kau benar."
Lagi-lagi Amadeus mengulurkan tangan. "Mari"
"Tidak, tidak, terima kasih," Miss Kingly tergagap-gagap, masih gelisah karena kehadiran Amadeus. "Aku lebih suka sendiri."
Naik darah, Amadeus maju selangkah, secara naluriah taringnya memanjang penuh antisipasi untuk membunuh. Ia akan memberi gadis menyebalkan itu pelajaran karena sudah berani menentangnya. Kemudian, dengan bersusah payah, ia memulihkan kembali ketenangannya.
Ia akan mendapatkan semuanya pada waktu yang tepat.
Sabar.
"Terserah kau saja." Amadeus membungkuk kaku. "Kuharap kau tidak akan segan-segan mencariku kalau membutuhkan bantuanku. Sampai jumpa dan selamat malam, My Dear."
"Selamat malam." Mengangguk linglung. Miss Kingly membalikkan badan dan segera menghilang di sudut.
Sendirian, Amadeus mengepalkan tangan saking frustasinya. Malam itu tidak berjalan sesuai yang ia harapkan. Miss Kingly tidak langsung mengangganya sebagai juru selamat, juga tidak menerima bantuannya dengan senang hati. Alih-alih wanita itu tetap bersikap waspada dan terlalu menjaga jarak. 
Tetapi, Amadeus tidak akan mengizinkan dirinya mendesak. Tidak seperti Tristan, yang selalu brutal dan impulsif, atau Drake, yang terlalu arogan, ia tahu ketajaman otaknyalah yang akan membuatnya berhasil.
Ia sudah menanam satu benih lagi malam ini. Nantinya benih yang ia tanam itu akan menarik Miss Kingly ke dalam pelukannya. Ia yakin itu.
Hingga saat itu tiba ia hanya akan menikmati kepuasan tak teringkari yang ia dapatkan dari berbagi ekspresinya.
***
Memperhatikan Miss Kingly meninggalkan vampir berbahaya itu dengan selamat, Lucien menyelipkan belati ke balik jasnya.
Sangat mengejutkan rasanya hampir berpapasan dengan dengan penghianat itu. Ketika secara impulsif ia memutuskan untuk mengikuti Miss Kingly menyusuri jalan-jalan yang gelap, Lucien lebih mencemaskan berbagai bahaya yang sudah biasa. Pencuri, pemerkosa, pembunuh. Melihat budak-budak yang dipengaruhi oleh mantera-mantera Pemaksa disusul oleh Amadeus, membuat darahnya dingin.
Mengintai cukup dekat untuk bergegas menghampiri gadis itu jika si vampir berusaha menyakitinya. Lucien tetap bersembunyi di balik bayangan guna mencari tahu apa sebenarya yang akan dilakukan oleh si penghianat. Terlepas dari kesembronoannya, Lucien tahu ia harus memahami secara pasti rencana Amadeus untuk mendapatkan Medalion.
Hanya butuh waktu beberapa detik bagi Lucien untuk menyadari bahwa si penghianat berniat memperdayai gadis itu dengan simpati yang dibuat-buat terhadap orang-orang malang yang tersebar di jalan-jalan St. Giles. Dan vahwa ia sanggup membunuh tanpa segan-segan demi mencapai tujuan.
Kesadaran tersebut membulatkan tekad Lucien.
Ia tidak akan membiarkan Miss Kingly disakiti. Untuk pertama kali dalam eksistensinya ia memiliki tanggung jawab yang sesungguhnya. Ia tidak akan gagal.
Menunggu hingga yakin gadis itu sedang menempuh perjalanan pulang, tanpa bersuara Lucien melangkah keluar dari balik bayangan dan menghadapi si vampir sambil tersenyum mengejek.
"Wah, wah, Amadeus," tukas Lucien. "Pintar sekali kau menyelamatkan Miss Kingly dengan segagah itu. Tapi toh, sejak dulu kau memang pintar. "Dengan satu gerakan tangan Amadeus membalikkan badan menghadap Lucien, kilat dingin melintas di mata pucatnya. 
"Ah, Lucien, akus udah menunggumu."
Lucien menyipitkan mata saking muaknya. Ia selalu memandang Amadeus sebagai pria congkak yang berselera humor buruk. Amadeus juga berwatak kejam dan senang membuat orang lain menderita. 
Sayangnya, Amadeus juga cerdik dan tenang. Dua kelebihan yang akan memastikan vampir itu tidak akan membuat kesalahan tolol.
Tetap waspada, Lucien bersandar ke bar yang sudah ditinggalkan lalu bersedekap.
"Molly yang malang, kurasa dia tidak pernah sadar kalau dia dijagal hanya supaya kau punya alasan untuk masuk ke kehidupan Miss Kingly?"
Bibir tipis itu melengkung mengulas senyum hambar. "Sejujurnya, dia tidak menunjukkan ketertarikan terhadap alasan dari penyiksaanya. Seperti kebanyakan manusia, sesuai dengan dia langsung menyerah kepada rasa ngerinya. Mereka sangat membosankan."
"Menurutku, itu kecenderungan yang sangat disayangkandari menjadi makhluk fana."
"Benar." Amadeus berpura-pura menghela napas sedih. "Dan karena dikejar waktu, aku terpaksa bertindak ceeroboh. Lehernya, sayangnya, cukup hancur dan kepalanya hampir putus."
Lucien tidak mau terpengaruh sampai menunjukkan rasa jijiknya. Ia yakin Amadeus sengaja berusaha untuk memancing responnya. 
"Aku bersimpati. Aku tahu bagaimana kau tidak menyukai pembunuhan yang berantakan."
Amadeus bergidik samar. "Memang. Tidak seperti Tristan dan Drake yang telah bergabung bersamaku dalam pertempuran untuk merebut Medalion, aku tidak mengizinkan rasa haus akan darah menjadikanku buas. Hasrat itu hanyalah alat untuk mencapai kekuatan yang lebih kuat."
"Pasti ada jalan yang lebih mudah bagi Molly." tukas Lucien.
Pendeta gadungan itu mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. " Pengorbanan harus dilakukan." 
"Mengapa?" desak Lucien.
"Apa?"
Dengan perlahan Lucien beranjak dari dinding. "Seperti yang kau bilang, kau tidak seperti Tristan dan Drake. Kau tidak pernah mempromosikan diri agar dipertimbangkan sebagai seorang Anggota Dewan Agung, atau mencari keistimewaan dengan modal kekuatanmu yang sudah tidak diragukan lagi. Kau seorang cendekiawan. Mengapa kau ke sini?"
Amadeus tersenyum dengan gaya mencemooh. "Aku pengejar pengetahuan, bukan cendekiawan," ralatnya. "Aku tidak membaca karya orang lain atau terus menerus memperdebatkan filosofi dengan orang-orang yang kalah pintar dariku. Aku mencari kebenaran dalam beraneka ragam bentuk. Kegiatan yang mustahil saat aku dipenjara di balik Tabir."
Keangkuhan sudah tidak mengejutkan lagi bagi mereka yang mengenal Amadeus. Ia jarang menutup-nutupi rasa unggulnya atas orang lain. 
"Kau menemukan kabenaran dengan membunuh makhluk fana?"
Kilat ganjil tiba-tiba melintas di mata pucat itu. "Sebenarnya kau yakin ada suatu kejernihan mengejutkan yang bisa ditemukan ketika kita dihadapkan engan ajal yang menjemput. Moment apa lagi yang menawarkan kesempatan selangka itu dalam mengesampingkan semua gangguan remeh agar seseorang bisa berkonsentrasi kepada makna kehidupan. Sebagai seorang Makhluk Abadi, aku tidak bisa mengalami moment pencerahan itu, maka aku mencarinya di antara manusia. Terlepas dari seluruh kelemahan mereka,mereka pasti memperoleh suatu pengetahuan pada napas penghabisan itu. Setelah eksperimenku dapat dilanjutkan, aku yakin seklai aku bisa menguak pencerahan yang paling menakjubkan. Aku hanya perlu menemukan makhluk fana yang tepat untuk risetku."
Ada nada berapi-api pada suara Amadeus yang membuat Lucien ngeri, tapi dengan teguh ia menjaga ekspresinya agar tetap tenang. Jelas vampir itu telah kehilangan seluruh akal sehat akibat rasa hausnya akan pengetahuan. 
"Sekarang kau sudah terbebas dari Tabir. Mengapa kau membutuhkan Medalion?"
Tiba-tiba senyum mencibir membuat wajah Amadeus berkerut. "Aku tidak senaif itu bahwa Nefri akan menoleransi studiku yang ganjil. Sepertimu, ia memiliki kegemaran yang tidak bisa dipahami trhadap makhluk fana. Dan, tentu saja, godaan dari kekuatan tidak bisa ditolak. Dengan Medalion aku bisa mengatasi batasan-batasan Dewan Agung yang kolot dan bebas memuaskan rasa hausku akan pengetahuan, ke manapun rasa haus itu membawaku."
Lucien menegakkan bahunya perlahan, ekspresinya tampak suram. "Sangat terpuji, tentu saja, tapi sayangnya tidak bisa ku biarkan kau mendapatkan Medalion." 
Amadeus tertawa nyaring begitu mendengar peringatan tegas Lucien. "Kau yakin kau bisa menghentikannku?"
"Kalau perlu."
"Berarti kita ditakdirkan untuk menjadi musuh" Amadeus membungkuk mencemooh. Semoga vampir yang terbaik menang. Adieu (selamat tinggal), Lucien."
 Dengan amat tenang Amadeus berbalik lalu menyusuri jalan yang gelap. Lucien mengelus belati di balik jasnya sebentar sebelum mengangkat bahu. Ia benar-benar berharap ia tidak perlu menghabisi Amadeus. Walaupun ia tidak menyukai Amadeus dan penyiksaan vampir itu terhadap manusia. Amadeus sudah seperti saudara baginya. Membinasakannya pasti mengerikan.
Menggelengkan kepala, Lucien mengusir pemikiran-pemikiran suramnya. Saai ini yang harus ia cemaskan adalah Mdalion dan Miss Kingly. Ia tidak boleh membiarkan perhatiannya terbagi. 
Dengan gerakan yang terlalu cepat bagi mata manusia, Lucien menghilang di balik bayangan lalu kembali ke rumah kecil yang sekarang menjadi rumahnya. Kegesitannya memastikan ia tiba di ambang pintu hanya beberapa saat setelah Miss Kingly, dan tanpa bersuara ia menyelinap di belakang wanita itu. Ketika ia menyentuh ringan bahu Miss Kingly, barulah gadis itu tersentak kaget lalu membalikkan badan dan memandangnya dengan mata terbelalak. 
"Oh, Mr. valin," engah Miss Kingly, tidak sepenuhnya berhasil menyembunyikan kelegaannya karena Lucien bukan penjahat yang berniat buruk. 
"Selamat malam, Miss Kingly, gumam Lucien lembut, pandangannya sengaja ditujukan ke kotoran yang menodai pipi Miss Kingly lalu diturunkan ke korset gaun wanita itu yang koyak. "Apa yang terjadi.?"
Miss Kingly terlambat berusaha menyembunyikan luka-lukanya dengan syal lusuhnya. "Ini bukan apa-apa."
Ekspresi Lucien menegang karena kata-kata tegas gadis itu. "Ini lebih dari bukan apa-apa."
Tanpa menunggu izin Miss Kingly, Lucien meraih siku gadis itu lalu dengan tegas membawanya ke ruang depan yang kecil. Miss Kingly berusaha memprotes, tapi jelas ia masih terlalu terguncang dengan kematian temannya sehingga tidak sanggup mengerahkan keberaniannya seperti biasa. 
"Apa yang kau lakukan?"
"Luka-lukamu harus dirawat, kalau tidak bisa infeksi," jawab Lucien, membawa Miss Kingly ke sebuah kursi lalu mendudukkannya di atas bantal tua. Lucien beranjak ke meja di dekat jendela. "Kau punya brendikan? Ah, ini dia." Mengambil botol brendi yang kecil, Lucien kembali menghampiri gadis yang linglung itu. Ia mgengambil sapu tangan dari balik jasnya dan menuang brendi ke linen bersih itu sebelum menyingkirkan syal Miss Kingly dengan lembut. 
"Ini tidak perlu," protes Miss Kingly begitu pipinya memanas. "Meg bisa membantuku."
 Lucien mengangkat kepalanya untuk membalas tatapan malu Miss Kingly. " Untuk apa mengganggu Meg kalau aku ada di sini.? Nah, jangan bergerak mungkin terasa perih." Ia menekankan saputangan ke luka goresan di bahu Miss Kingly, bibirnya menipis waktu gadis itu meringis kesakitan . Amadeus harus membayar karena sudah membuat Jocelyn Kingly terluka, janji Lucien dalam hati, dengan tekun membersihkan kotoran dari luka gadis itu.
"Oh," engah Miss Kingly sementara Lucien terus membersihkan lukanya. 
Lucien meringis penuh sesal. "Sayangnya aku tidak bisa mengurangi rasa sakitnya."
Miss Kingly menggertakkan gigi. "Tidak apa-apa seperti ini?" desak Lucien, berharap bisa mengalihkan perhatian Miss Kingly dari apa yang sedang ia kerjakan.
"Aku bertemu dengan beberapa berandalan."
"Ah. Tidak mengejutkan di lingkungan seperti ini. Kurasa aku hanya membuang-buang waktu tidak memperingatkanmu bahwa seorang gadis muda yang cantik seharusnya tidak berkeliaran di jalan selarut ini?" 
"Tebakanmu tepat," sahut Miss Kingly dengan nada ketus, pasti sudah diperingatkan tentang bahayanga.
"Setidaknya, seharusnya kau mengajak pendamping. Wanita yang sendirian jauh lebih mudah diserang."
"Aku tidak mau membahayakan siapa-siapa."
 Mata Lucien menatap mata Miss Kingly dengan tegas. "Kecuali dirimu sendiri.?"
Miss Kingly mengangkat salah satu bahunya, lalu meringis akibat gerakan tersebut. "Aku berhak membuat keputusan sendiri." 
Lucien tersenyum masam karena nada keras kepala Miss Kingly. Gadis itu tidak mudah dibujuk untuk menghentikan kebiasaannya yang nekad. Tidak kalau Miss Kingly yakin ia sedang menyelamatkan orang-orang malang di jalan. Dan karena tidak bisa mengungkapkan yang sebenarnya tentang bahaya yang mengancam Miss Kingly, Lucien terjebak dalam posisi sulit untuk entah bagaimana merayu gadis itu agar bersedia menerima bantuannya.
Tugas yang teramat berat.
"Tentu, My Dear," Lucien berusaha menenangkan sambil terus mengurus luka goresan yang dalam. "Seorang wanita mandiri sepertimu tidak perlu minta izin untuk pergi ke tempat yang dikehendaki."
Miss Kingly memandang Lucien dengan kecurigaan yang terang-terangan, seakan mengetahui niat busuknya. "Tepat."
"Namun seorang wanita yang bijaksana pasti lebih berhati-hati,kan?"
Wajah Miss Kingly langsung menegang karena kebenaran yang tak tergoyahkan pada tuduhan Lucien. "Apa kau sudah selesai?"
"Sebentar lagi." Dengan berhati-hati Lucien memilih kata-katanya, tahu bahwa satu langkah yang salah bisa memakan waktu berhari-hari, kalau bukan berminggu-minggu, untuk ditebus. "Apa kau sering keluar malam?"
"Ya."
"Kau menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan?"
"Kalau bisa." Mata indah itu menggelap. "Sayangnya aku tidak sanggup menolong mereka semua."
Tahu kalau Miss Kingly sedang memikirkan Molly yang baru saja tewas, Lucien tersenyum penuh simpati. "Tidak ada orang yang sanggup."
"Yah, kurasa begitu."
dengan perlahan Lucien menegakkan badan untuk memandang wajah pucat Miss Kingly, hatinya kembali tersentuh oleh kecantikan nan lembut gadis itu. Kecantikan yang tercermin dari kemurahan hati Jocelyn. 
 "Aku punya penawaran untukmu, Miss Kingly," ujar Lucien pelan.
Miss Kingly langsung menegang saking bingung dan waspadanya. "Apa?"
"Aku bersedia membayarmu.......katakanlah satu pound....... untuk setiap kesempatan yang kau berikan kepadaku untuk menemanimu melakukan kunjungan-kunjunganmu di jalan."
Terjadi keheningan sesaat sebelum Miss Kingly berdiri pelan-pelan. "Apa?"
"Aku yakin kau sudah mendengarku."
Tapi.... mengapa? Mengapa kau bersedia menawarkan uang sebesar itu untuk kerepotan dalam menemaniku sementara aku menemui para pencopet dan wanita-wanita hina?"
Bibir Lucien berkedut masam karena nada heran Miss Kingly.
"Kau bukan satu-satunya orang yang merasa tergerak untuk menolong mereka yang membutuhkan bantuan. Dan kebetulan aku yakin sekarang ini kau sedang sangat membutuhkan bantuan."
Tidak kuasa menahan diri, Lucien mengulurkan tangan untuk menyentuh lembut kulit pipi Jocelyn Kingly yang sempurna. Jarinya menggelenyar penuh kenikmatan sewaktu menelusuri kelembutan bak satin itu.
"Kau boleh memilih kepada siapa kau menawarkan bantuan, Miss Kingly. Tentunya aku juga boleh memilih."
Miss Kingly membiarkan sentuhan Lucien berlama-lama sebentar sebelum tiba-tiba ia menjauh. "Ini konyol"
"Aku menganggapmu gila."
"Mungkin." Lucien mengangkat bahu dengan acuh tak acuh, ,matanya berbinar karena rasa geli yang tidak bisa ditahan. Sudah pasti gadis itu bukan orang pertama yang mengatainya gila.
"Tapi apa itu penting? Kau akan menerima uangmu dan aku bisa tenang karena tahu kau aman."
Miss Kingly membuka mulut untuk memaki Lucien karena kekurangajaran pria itu, tapi meskipun harga dirinya memberontak karena makna tersirat Lucien bahwa ia tidak becus menjaga dirinya sendiri, akal sehat mulai ikut campur. Miss Kingly bimbang, menggigit bibir bawahnya sewaktu dipaksa mempertimbangkan tawaran lugas Lucien. "Satu pound semalam?" tanyanya dena suara parau.
"Ya"
"Hanya untuk menemaniku?"
Lucien terdiam, memutuskan untuk memanfaatkan kebimbangan sesaat Miss Kingly sepenuhnya. Ia bertekad untuk menyelamatkan gadis itu bukan hanya dari jalanan, tapi juga dari luka masa lalu.
"Ada satu syarat lagi."
"Apa itu?"
Senyum Lucien bertambah lebar ketika ia mendekat kepada tubuh lalu Miss Kingly. "Setiap malam kita juga mesti melakukan kegiatan yang.... tidak terlalu serius."
Ekspresi gusar meliputi wajah Jocelyn Kingly. "Seharusnya aku sudah tahu."
Tergelak karena reaksi Miss Kingly yang sesuai dugaan, dengan lembut Lucien meletakkan jarinya ke lengan wanita itu. "Tunggu sebentar. Yang kumaksud adalah kegiatan pengisi waktu yang tidak berbahaya seperti permainan cribbage atau backgammon."
Kegusaran sirna secara perlahan, digantika oleh kerutan samar. "Aku tidak tertarik dengan permainan konyol seperti itu."
"Jadi kau tidak mau menerima tawaranku?" goda Lucien. "Bahkan untuk membantu orang-orang yang katanya sangat kau pedulikan itu?" Tantangannta tak terbantahkan, dan lagi-lagi Jocelyn Kingly bimbang.
Satu pound mungkin tak berarti bagi Lucien, tapi bagi seorang wanita yang ada berada dalam posisi Miss Kingly,uang itu merupakan harta yang berharga. Dan walaupun tidak suka meraup keuntungan materi bagi dirinya sendiri, Jocelyn Kingly bertolak pinggang dan menghunjam Lucien dengan pelototan yang pasti membunuhnya bila ia bukan Makhluk Abadi.
"Baiklah. Kalau kau mau menghamburkan uang dengan sesantai itu, aku terima.  Tapi, kuperingatkan kau, jangan macam-macam. Kuharap kau ingat bahwa kau pria terhormat."
"Baik, My Dear." Menggamit tangan Miss Kingly, Lucien mengangkat jemari wanita itu untuk mengecupnya. "Kesepakatan kita sudah disegel." 


 kaito1412
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 
 

Minggu, 06 September 2015

BAB I


BAB 1 

Walaupun belum pernah bertemu dengan iblis. Miss Jocelyn Kingly cukup culup yakin makhluk itu tengah duduk di ruang depannya. 
Bukan penampilan pria itu yang mengingatkannya kepada Penguasa Neraka, Jocelyn mengakui dengan segan.
Malah, pria itu bisa menjadi malaikat yang dikasihi dengan rambut ikal panjang kuning kecoklatan yang membingkai wajahnya ramping serta menyapu bahu bidangnya. Matanya berwarna emas murni dan cemerlang dengan bulu mata hitam panjang yang akan membuat wanita mana pun menggertakkan gigi saking irinya. Wajahnya dipahat dengan keindahan maskulin yang halus.
 Namun tidak ada yang menyerupai malaikat dari kilat geli bejat yang nyata pada mata menawannyadan lengkungan sensual pada bibir ranum itu.
Dan tentu saja, pesona yang tak senonoh pada lesung pipi yang dalam itu.
Seharusnya Jocelyn langsung mengusir si iblis begitu pria itu tiba di ambang pintu rumahnya. Seharusnya tidak sedetikpun ia mempertimbangkan gagasan unutk mempersilahkan masuk seorang pria yang sedemikian meresahkan ke rumahnya.
Ia pasti sudah gila.
Saat pertama kali ia mendapatkan ide untuk menyewakan lotengnya, ide tersebut disertai oleh harapan akan seorang penyewa yang tenang dan menentramkan.
Seorang yang tidak akan mengusik kedamaian rumahnya.
Sayangnya hanya sedikit penyewa tenang dan menentramkan yang mau tinggal di lingkungan yang berdekatan dengan rumah-rumah bordil. Para pencopet dan pelacur lokal tidak punya uang untuk membayar sewa, bahkan kalau Jocelyn mau mengizinkan mereka masuk ke rumahnya sekalipun. Dan segelintir pria yang berbisnis di tempat itu sudah memiliki properti sendiri, biasanya jauh dari St. Giles.
Berarti tinggal Lucien Valin.
Jocelyn bergidik ngeri.
Andai saja ia tidak sangat membutuhkan uang. Anda saja ia tidak harus menunggu sampai dua bulan penuh untuk menerima tunjangan tiga bulannya.
Andai saja........
Bibir Jocelyn berkedut masam. Ia bisa menghabiskan dua minggu ke depan dengan membuat daftar "andai saja" dalam hidupnya. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk kerinduan sia-sia semacam itu.
Lebih dari siapa pun, Jocelyn mengerti kalau kesalahan masa lalu tidak bisa dirubah. Kita hanya bisa memastikan kesalahan-kesalahan tersebut tidak terulang.
Tanpa sadar menegakkan badannya, Jocelyn memaksakan diri untuk menatap mata keemasan yang tajam itu. Tidak mengejutkan rasanya mendapati bibir tamunya berkedut seakan pria itu terhibur oleh kebimbangannya yang kentara jelas.
"Jadi Miss Kingly, apa surat kabarnya keliru?" tanya Mr. valin dengan suara parau yang beraksen samar. "Kau punya ruangan untuk disewakan atau tidak?" Suara iblis. Jocelyn menarik napas untuk menenangkan diri. Iblis atau bukan, pria merupakan itu satu-satunya calon penyewa yang menawarkan uang tunai yang sangat ia butuhkan.
Pasti ada hikmahnya. Sayangnya begitu.
"Ruangannya ada," Jocelyn mengiyakan dengan nada was-was. "Tapi, aku merasa wajib untuk memperingatkan kalau ruangannya terletak di loteng dan sangat sempit. Aku tidakyakin ruangannya nyaman."Tangan kuat Mr. Valin yang ramping ditangkupkan di bawah dagu, mata keemasannya mengilat karena sinar mentari pagi yang menyelinap masuk.
 "Jangan takut, aku memang tinggi, tapi untungnya, cukup cerdas. Setelah kepalaku terbentur kasau beberapa kali, aku pasti ingat untuk menunduk."
"Belum lagi di dekat sini ada rumah jagal. Terkadang baunya tak tertahankan."
"Setahuku hanya sedikit tempat di London yang tidak tercemar oleh bau tak sedap. Bahkan Mayfair pun tak bebas dari bau busuk."
 Jocelyn bersusah payah mempertahankan ketenangannya. Ia tidak pernah membiarkan dirinya terpengaruh. Ia sudah belajar dari pengalaman pahit bahwa kehilangan kendali adalah undangan bagi bencana, "Tapi..... tidak seperti Mayfair, lingkungan ini juga berbahaya."
Tiba-tiba lesung pipi Mr. Valin terlihat sepintas. "My Dear, kau tidak beranggapan kalau Mayfair aman, kan? Bayangkan saja.... para ibu yang dipusingkan oleh pernikahan para pria yang berpakaian berlebihan dan beraroma minyak mawar, juga seorang pangeran yang bertekat untuk membuat kamarnya sepanas neraka. Itu sudah cukup mengerikan bagi orang-orang yang paling berani sekalipun." Ia mengangkat salah salah satu bahunya yang bidang. "Aku pasti bisa menghadapi sekelompok pencuri dan anak jalanan."
 Tidak ada argumen yang masuk akal untuk menyanggah kata-kata percaya diri Mr. Valin. Meskipun pria itu bersikap santai, kekuatan yang gesit dari tubuh jantan serta tekat bulat yang terukir pada wajah rampingnya ketara jelas.
Hanya orang bodoh yang bisa meremehkan ancaman yang dihadirkan oleh Mr. Lucien Valin. Dan Jocelyn bukan orang bodoh.
"Terserah kau saja." Jocelyn mengalah dengan berat hati.
"Masih ada lagi?"
"Aku punya peraturan, tentu saja." tukas Jocelyn cepat-cepat, sama sekali tidak kaget waktu bibir Mr. Valin melengkung geli secara terang-terangan.
"Tentu saja."
"Ini bukan penginapan. Aku hidup dengan sangat tenang. Aku tidak mentoleransi pertemuan yang sangat gaduh atau acara mabuk-mabukan."
Salah satu alis kuning kecoklatan itu diangkat. "Aku tidak boleh menerima tamu?"
"Boleh asal mereka tidak berisik."
Entah mengapa respon tenang Jocelyn malah membuat Mr. Valin semakin geli. "Ah"
Rasa ngeri yang tak diundang kembali membuat Jocelyn bergidik, dan ia mendapati dirinya menahan kata-kata untuk mengusir Mr. Valin dari rumahnya.
Jocelyn sadar ia tidak boleh mengusir seorang calon penyewa yang sudah sangat cocok hanya karena suatu ketakutan yang tak beralasan.
 "Dan kesepakatan kita bersifat sementara." cetus Jocelyn sebagai upaya untuk meredakan kegugupannya. "Tidak lebih dari dua bulan."
"Itu sudah cukup bagus bagiku."
Rupanya semuanya cukup bagus bagi sang iblis.
Jocelyn menyipitkan matanya. "Aku juga harus menekankan agar kau menghargai privasiku. Kau boleh makan di dapur bersama Meg, tapi bagian rumah yang lain tidak boleh dimasuki."
Terjadi keheningan sejenak sewaktu Mr. Valin memperhatikan wajah datar Jocelyn dengan cermat. Kemudiaan pria itu menganggukkan kepala sekilas. "Terserah kau saja, hanyab itu?"
Hanya itu tentu saja.
Jocelyn meminta bayaran kelewat tinggi kepada Mr. Valin untuk ruangan yang sempit dan makanan yang harus pria itu santap di tempat para pelayan.
Jocelyn ingin juga membuat peraturan yang keterlaluan dan pasti membuat pria terhormat yang berperangai paling halus jengkel.
Fakta bahwa Mr. Valin langsung menerima semua syarat dan aturannya membuat Jocelyn semakin curiga. 
"Menhapa kau ke sini ?" tanya Jocelyn tiba-tiba.
Tangan Mr. Valin diturunkan sementara ia memandang Jocelyn sambil tersenyum bingung.
"Maaf?"
Jocelyn sengaja menurunkan pandangannya ke jas merah keunguan yang jelas dipotong oleh seorang ahli dan rompi putih yang dijahit dengan benang perak.
Pandangannya terus diturunkan ke kaki Mr. Valin yang padat dan kekar lalu berhenti di bot Hessian mengilat yang harganya melebihi penghasilan tahunan banyak keluarga.
Akhirnya Jocelyn mengangkat kepalanya dan mendapati Mr. Valin tengah memperhatikannya dengan penasaran. "Sudah jelas kalau kau ini orang berada, Mr. Valin. Mengapa kau mau menyewa ruangan bobrok di lingkungan yang menurut sebagian besar orang hanya pantas untuk para pembunuh dan pelacur?"
"Apakah alasanku sangat penting?" Mr. Valin balas bertanya dengan lembut.
"Aku tidak mau menyembunyikan seorang kriminal."
Tiba-tiba Mr. Valin tergelak."Percayalah aku tidak sedang menghindari tiang gantungan."
"Lantas mengapa?"
"Bisa dibilang aku sedang sedikit berselisih paham dengan sepupuku."
Penjelasan tersebut agak janggal bagi Jocelyn. "kau sedang sedikit berselisih paham dengan sepupumu dan sekarang kau mau bersembunyi di St. Giles? Alasanmu harus lebih baik dari itu Mr. Valin"
Kilat bejat pada mata keemasan itu menjadi jelas. "Mungkin lebih dari sekedar berselisih paham. Gideon bisa sangat menyebalkan kalau dia menginginkannya, dan dia menginginkan duel maut. Rasanya sebaiknya aku menghindarinya selama beberapa minggu ke depan. Hanya sampai ketenangannya kembali."
"Apa yang melatarbelakangi kesalahpahaman kalian?"
Secara tidak terduga wajah Mr. Valin menjadi kaku. " Ini urusan pribadi."
Seorang wanita, Jocelyn menyimpulkan dalam hati, dikejutkan oleh hunjaman kekecewaan yang menghianatinya. Apa lagi yang bisa ia harapkan dari pria seperti itu? Mr. Valin bagaimanapun juga dilahirkan untuk menghancurkan hati wanita yang mudah dirayu.
Kemudian Jocelyn memaki dirinya sendiri karena lamunannya yang tidak pantas. Ia tidak tau apa-apa tentang pria ini. Yang jelas tidak cukup tau untuk mencap Mr. Valin sebagai bajingan penakluk wanita. Dan sejujurnya kalaupun ia benar, ia tidak berhak menghakimi orang lain.
"Aku menghargai privasimu, tapi kau harus mengerti kalau aku tidak mau menjumpai seorang pria yang sedang marah di ambang pintu rumahku dengan pistol duelnya."
Ekspresi geli nan bejat langsung kembali ke wajah perunggu itu. "Dia tidak mungkin tau aku disini. Lagi pula, Gideon tidak akan menyakiti seorang lady. Dia jauh lebih suka menebar pesona. "Senyum Mr. Valin menjadi sangat cabul. "Begitupula denganku."
Dengan berhati-hati Jocelyn meletakkan tangannya di atas mejanya yang rapi. Kelakar genit inilah yang ia takutkan dari Mr. Valin. Ia harus segera membuyarkan semua harapan yang Mr. Valin miliki dengan godaan sambil lalu tadi.
"Bagus, jangan bayangkan barang sedetikpun kalau aku tertarik barang sedikit saja pada pesona yang kau bilang kau miliki itu Mr. Valin."
Sama sekali tidak tersinggung mendengar kata-kata tegas Jocelyn, Mr. Valin mengusap rahangnya dengan jemarinya yang lentik.
"Jangan melebih-lebihkan Miss Kingly. Tidak tertarik barang sedikitpun?"
"Tidak."
Mr. Valin menghela nafas menggoda. "Wanita yang sulit."
"Wanita pintar yang tak punya waktu untuk permainan konyol." ralat Jocelyn tegas. "Sebaiknya kau mengingat peringatanku"
"Oh daya ingat ku kuat," sahut Mr. Valin, merogoh ke balik jasnya untuk mengeluarkan sebuah tas kulit kecil yang kemudian ia letakkan di atas meja.
"Aku bahkan mengingat ini."
Jocelyn mengamati tas itu dengan waspada. "Apa itu?"
"Bayaran sewa dua bulan di muka, seperti yang kau minta."
Jocelyn tidak berusaha mengambil uangnya. Ia tahu bahwa ketika jemarinya menyentuh uang tersebut, itu artinya ia telah berkomitmen untuk mempersilahkan pria itu masuk ke rumahnya.
Namun, apa lagi yang bisa ia lakukan? Ia punya kebutuhan. Selain itu, ia harus memikirkan Meg. Pengasuh tuanya itu menjadi satu-satunya orang yang membelanya ketika scandal itu muncul. Meg adalah satu-satunya teman yang tersisa baginya di dunia.
Bagaimana bisa ia membiarkan wanita tua itu lebih menderita lagi?
Jawabannya, tentu saja, ia tidak bisa. Uang ini bisa membayar pemberi utang yang paling mendesak dan menghidangkan makanan di meja. Saat ini hanya itu yang penting.
Dengan muram mengenyahkan suara penuh peringatan yang berbisik di bagian belakang benaknya. Jocelyn menganggukkan kepala. "Terima kasih."
Seakan mengetahui pergumulan batin Jocelyn, sang iblis mengangkat alisnya dengan lagak mengejek samar. " Kau tidak mau menghitungnya?"
"Tidak perlu."
"Semudah itu kau percaya, Merpatiku?"
"Kau tidak akan sulit di cari kalau ternyata kau menipuku."
"Kau benar," timpal Mr. Valin sambil tergelak. "Kapan aku boleh ke ruanganku?"
Walaupun tidak selalu memilih kebenaran jika sedikit dalih terasa lebih praktis, Jocelyn mendapati dirinya tidak bisa mengarang kebohongan yang akan membebaskannya dari kehadiran Mr. Valin selama beberapa hari.
Bukannya itu penting.
Jocelyn tahu ia pasti hanya akan menghabiskan hari untuk memikirkan apa yang terjadi. Ini sama seperti menelan obat yang pahit. Sebaiknya dilakukan cepat-cepat.
"Ruangan sudah dibersihkan dan dirapikan," Jocelyn memaksakan diri untuk mengakui. "Kau boleh masuk ke sana kapanpun kau mau."
"Bagus. Aku akan mengambil barang-barangku dan ke sini nanti siang."
Nanti siang.
Jocelyn tidak sudi bergidik lagi. " Bagaimana dengan sepupumu?" tanyanya. "Memangnya dia tidak akan menembakmu kalau kau mengambil barang-barangmu?" 
"Aku mendengar dari sumber terpercaya bahwa hampir semalaman dia menghabiskan waktu dengan kekasih barunya. Dia pasti baru bangun beberapa jam lagi."
Tanpa disadarinya, Jocelyn meringis. "Aku mengerti."
Ekspresi puas yang janggal melintas di wajah tampan itu. " Kau tidak membenarkan kegiatan pengisi waktu yang seperti itu, kan, Miss. Kingly.
Jocelyn langsung memasang ekspresi tenang di wajahnya. "Aku tidak cukup berhak untuk menyalahkannya Mr. Valin."
Diusir secara efisien, pria berambut kuning kecoklatan itu bangkit dari kursinya dengan enggan.
"Aku akan kembali beberapa jam lagi," Mr. Valin langsung memperingatkan.
Akan tetapi Jocelyn sudah siap untuk kesempatan ini.
"Kalau butuh sesuatu bicara saja dengan Meg. Dia sangat cakap dan memegang kendali sepenuhnya atas rumah ini." Mata keemasan Mr. Valin disipitkan saat degan tenang Jocelyn mengoper pria itu ke tangan pelayannya.
"Lebih capak darimu , Miss Kingly?" tanya Mr. Valin dengan suara paraunya.
"Tak perlu diragukan lagi." Menganggukkan kepala singkat, Jocelyn duduk kembali dan mengambil buku besarnya. "Sampai jumpa, Mr. Valin."
Mr. Valin tetap berdiri di samping meja, tapi ketika Jocelyn terus mengarahkan pandangannya ke halaman catatan pembukuannya, pria itu akhirnya tergelak pelan. "Sampai nanti, My Dear."
Jocelyn terus berpura-pura sibuk sampai akhirnya mendengar suara pintu yang ditutup ke belakang tubuh Mr. Valin yang menjauh. Setelah itu barulah ia bersandar di kursinya dan memejamkan mata karena keletihan yang janggal.
Makan malam akan tersaji di meja nanti malam.
Berapa harganya?
Dan apakah disiap membayarnya?
***
Secara mengejutkan, dapur tampak bersih dan diharumkan oleh aroma lezat dari roti yang baru dipanggang serta tanaman bumbu yang dikeringkan.
Duduk di meja yang sudah dibersihkan, Lucien bersandar menghela napas dalam-dalam.
Keadaan di sekelilingnya tidak bisa dibandingkan dengan town house Gideon yang luas atau bahkan hotel elegan yang ia pilih setibanya ia di London. Rumah itu memang rapi dengan perabotan yang kokoh, tapi jelas sekali lingkungannya sangat buruk dan udaranya berbau sampah busuk serta selokan.
Namun, ia tidak terlalu kecewa kalau pencariannya telah membawanya ke rumah sempit di jalan buntu nan kumuh itu. Ruangan-ruangannya memang sempit  dan indra-indranya yang peka terganggu oleh lingkungan yang terlantar, tapi semua menjadi tak berarti begitu ia melangkah masuk ke ruang kerja yang kecil.
Sekarang saja ia bisa merasakan goncangan dari keterpesonaannya tatkala ia melihat Miss Kingly.
Wanita itu membuatnya terpukau.
Wajah Miss Kingly berbentuk oval sempurna dengan mata besar berwarna biru jernih bak lautan tropis. Rambutnya, yang disanggul ketat di tengkuknya berwarna hitam mengkilat dan sangat kontras dengan kulit sewarna krimnya yang mulus. Miss Kingly memiliki kecantikan abadi milik seorang Madonna, lekuk-lekuk molek yang bisa membuat pikiran seorang pria melantur ke arah yang berbahaya.
Sebagai seorang kolektor benda-benda artistik, Lucien tergugah oleh keelokan Miss Kingly.
Sebagai seorang vampir dengan gairah yang terbebas untuk yang pertama kalinya dalam waktu dua abad suatu bagian dari anatomi Lucien tergugah.
Ia sempat memikirkan sejenak betapa cepatnya ia bisa merayu Jocelyn untuk naik ke tempat tidurnya. Betapa indahnya Jocelyn yang telentang di atas seprei putih bersih, rambut wanita itu seperti sungai sutra, renung Lucien dengan kerinduan nyata. Diterpa cahaya lilin, kulit Jocelyn akan mengilat pucat laksana porselen halus. Lekuk-lekuk molek wanita itu akan pas di tangannya. Ah, menaklukkan wanita seperti pasti memberi kenikmatan yang tak terkatakan.
Tapi sementara darahnya menggelegak penuh antisipasi, Lucien menatap mata awas itu dan merasakan kesepian yang jauh di kedalamannya.
Gairah Lucien yang sudah diperhitungkan pun padam dengan helaan nafas penuh sesal.
Miss Kingly tidak butuh kekasih.
Wanita itu butuh juru selamat.
Kesadaran tersebut datang tanpa diundang seperti bau busuk dari rumah jagal di dekat situ, juga tidak bisa dihindari.
Lucien ke sini untuk melindungi gadis itu. Semoga saja sifat kesatriannya yang sudah berkarat bisa dibujuk untuk mengalahkan hasrat yang bahkan sekarang pun telah bergolak di dalam darahnya.
 Mendorong mundur piringnya, Lucien tersenyum pada orang yang tidak diragukan lagi merupakan jendral di rumah itu. Pelayan tersebut merupakan wanita besar yang berambut kelabu seperti besi dan berwajah seperti granit. Lucien hanya bisa berharap agar hatinya tidak sekeras itu.
"Lezat, My Dear, Meg" puji Lucien. "Enak sekali. Mahakarya sejati." Pesona yang dulu Lucien kira ampuh ternyata tidak efektif. Tidak efektif untuk si pelayan dan juga majikannya.
"Ini cuma shepherd's pie, mahakarya apanya?"
"Ah, tapi di tangan seorang seniman, shepherd's pie pun bisa menjadi mahakarya. Dan kau, tentunya, jelas seorang seniman." Ternyata wanita itu malah memandang Lucien dengan lebih curiga lagi. "Miss Jocelyn memperingatkan saya kalau anda memiliki lidah fasih iblis. Sekarang saya tahu alasannya."
Lucien sama sekali tidak kaget. Sejak memasuki rumah ini ia sudah tahu kalau gadis muda itu gelisah di dekatnya.
Sayangnya Medalion yang Miss Kingly kenakan di leher membuat mantera Penggerak tidak bisa digunakan. Artefak kuno itu cukup kuat untuk melindungi Miss Kingly bahkan dari kemampuan paling berbahaya yang dimiliki oleh seorang vampir. Lucien sadar ia harus memenangi kepercayaan gadis itu dengan cara yang lebih sulit dan memakan waktu.
Bukan salah satu bakatnya yang terkenal.
"Oh ya?" gumam Lucien. "Gadis muda yang sangat menarik dan unik."
"Ah Meg kau membuatku terluka."
"Belum, tapi akan saya lakukan kalau anda mempermainkan Miss Kingly."
Lucien tertawa kaget, mendapati bahwa ia sangat senang berdebat dengan pemarah tua yang kasar itu. Terlepas dari sikap ketusnya, sudah jelas kalau Meg sangat setia kepada Jocelyn.
"Apa?"
Meg meletakkan tangannya di pinggulnya yang besar. "Miss Kingly adalah wanita baik-baik dan terhormat yang telah dilukai dan dikecewakan jauh melebihi apa yang sepantasnya. Saya akan menghajar siapa pun yang cukup bodoh untuk menyakitinya lagi dengan panci saya."
Lucien langsung penasaran. Dilukai dan dikecewakan. Pemahaman adalah kekuatan, dan Lucien sangat ingin memahami Jocelyn Kingly sampai sejauh mungkin.
"Sungguh disayangkan. Dia masih terlalu muda untuk menanggung derita dunia ini. Katakan, apa yang melukainya?"
"Dia yang berhak menceritakannya. Ingat saja kalau saya akan mengawasi anda."
Lucien membalas tatapan penuh peringatan itu dengan tenang. Tentu saja, ia bisa memaksa Meg untuk membeberkan masa lalu Miss Kingly, dan semua yang ia inginkan, tapi ia menolak godaan tersebut. Selain dirinya, wanita ini adalah satu-satunya orang di London yang bersedia mempertaruhkan segalanya demi melindungi gadis lemah itu. Ia membutuhkan Meg yang berpikiran jernih.
 "Aku tidak berniat untuk menyakiti Miss Kingly," ujar Lucien. "Aku tidak akan menyakiti wanita muda manapun. Tapi aku juga tidak akan mengabaikannya. Jelas dia membutuhkan kehadiranku."
"Membutuhkan kehadiran anda? apa maksud anda?"
 "Ada kesedihan mendalam di matanya."
"Hah. Saya sudah tahu itu. Seluruh London juga sudah tahu. Seperti yang saya katakan, dia pernah dihianati dulu."
"Dan dia tidak membiarkan luka-lukanya pulih," ujar Lucien lembut, menatap sorot bimbang Meg. "Kesalahan fatal. Kegetiran itu seperti infeksi yang akan menghancurkan jiwanya jika tidak dibersihkan."
Memahami luka-luka Jocelyn yang rentan sebaik Lucien, Meg mengendurkan kewaspadaannya dengan enggan.
"Mungkin. Menurut anda bagaimana kegetiran ini bisa dibersihkan?"
"Pertama dengan menunjukkan bahwa masih ada kesenangan yang masih bisa ditemukan di dunia ini."
Mata pucat itu disipitkan. " Kesenangan yang sebesar apa?"
Bibir Lucien berkedut karena kecurigaan terang-terangan Meg bahwa ia berniat merayu sang majikan. Kecurigaan yang beralaskan kuat.
"Sebesar yang dia kehendaki, tidak lebih," jawab Lucien, menenangkan yang lebih tua itu. "Memang kau pikir dia tidak layak bahagia?"
"Tentu saja dia layak bahagia. Tidak ada yang lebih layak."
"Jadi kalau aku ingin memancing Miss Kingly dari cangkang ketenangannya yang dingin, aku tidak perlu takut disambut dengan panci?"
"Tergantung," Meg memperingatkan, pandangannya diarahkan dengan penuh arti ke panci di atas konter.
"Tergantung apa?"
"Tergantung apakah pancingan anda membahayakan hati Miss Jocelyn. Dia sama sekali tidak sekebal yang diyakini orang-orang.Apalagi kalau sudah berurusan denga n iblis berlidah fasih."
Tidak diragukan lagi kalau kecemasan Meg tulus, tapi Lucien langsung mengesampingkannya. Ia harus berdekatan dengan Jocelyn kalau mau melindungi gadis itu.
Semua rintangan yang ada harus ditangani setelah para penghianat dikembalikan ke balik Tabir.
"Aku hanya ingin melihatnya tertawa." gumam Lucien akhirnya.
Meg menghela napas pelan, " saya juga."
"Kalau begitu, kita harus bekerja sama."
"Lihat saja nanti." Wanita itu tidak mau berbicara lebih banyak dari yang diperlukan.
"Kau ingin menggunakan panci itu ya?"
"Oh, tentu saja."
Sambil tertawa, Lucien berdiri. "Kita pasti akur, Meg."