Selasa, 15 September 2015

BAB II


BAB II

Amadeus mengikuti wanita itu dengan tenang. Tetap bersembunyi di balik bayangan toko-toko dan penginapan-penginapan yang sudah ditinggalkan, ia berjalan mantap sementara wanita itu mencari pelacur yang memiliki nama Molly.
 Sudah hampir dua minggu Amadeus mengamati gerak-gerik wanita ini.
Amadeus tahu persis kapan wanita itu keluar rumah setiap malam. Kapan wanita itu membawakan makanan untuk anak-anak jalanan. Kapan wanita itu mencari pelacur-pelacur yang menyedihkan dan membujuk mereka untuk meninggalkan kehidupan mereka yang penuh derita lalu pergi ke pondok kecil yang sudah ia beli di luar kota. Amadeus bahkan tahu malam ini wanita itu akan mencari Molly muda yang malang seperti yang ia lakukan pada setiap Rabu malam. Dengan sia-sia wanita itu akan memohon agar si pelacur meninggalkan suami kasar yang memaksanya menjajakan diri di jalan demi membelikan pria itu gin.
Itulah sebabnya Amadeus menghabisi si pelacur dan mengerahkan kaki tangannya untuk bersembunyi di sudut.
Kebiasaan Miss Kingly akan menjadi kehancurannya.
Bersiul nyaring, Amadeus memperhatikan ketiga pelayannya yang kotor terhuyung-huyung mengitari sudut dan mengerumuni gadis yang tidak tahu apa-apa itu.
Sesuai perintah Amadeus, ketiga pria tersebut langsung menyambar Miss Kingly dan menutup mulutnya agar ia tidak menjerit takut. Amadeus menunggu sebentar untuk mamastikan Miss Kingly sudah cukup ketakutan akibat serangan mendadak itu sebelum melangkah maju guna merampungkan siasatnya yang telah direncanakan dengan baik.
Hanya untuk berhenti saking kagetnya.
Dengan kekaguman yang tak terduga. Amadeus memperhatikan Miss Kingly yang meronta sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari para penyerang yang gigih.
Tidak ada air mata, tidak pingsan, tidak ada tanda-tanda kepanikan.
Alih-alih, Miss Kingly menendangi ketiga pria itu dengan berani, menggunakan tangan dan bahkan sikunya demi memenangi kebebasannya.
Wanita itu berbeda.
Rasa penasaran yang tajam dan tak terduga bangkit di kedalaman jiwa Amadeus yang sedingin es.
Sebagai seorang cendikiawan sejati, ia terlalu tertarik kepada segala sesuatu yang tak terduga. Apalagi kalau sudah berurusan dengan makhluk fana. Bukan karena panasnya gairah mereka, juga cinta dana kebencian mereka yang menjemukan. Kefanaan mereka sematalah yang menggugah ketertarikan Amadeus. Mungkin setelah mendapatkan Medalion yang sekarang Miss Kingly kenakan di leher, ia akan mengizinkan wanita itu menjadi bagian dari riset berkelanjutannya.
Miss Kingly apasti meningkatkan mutu dari kelompok manusia yang sedang ia pelajari, pikir Amadeus. Tentu saja, sebelumnya ia harus memastikan Medalion harus diserahkan ke dalam genggamannya.
Dengan gerakan yang sudah diperhitungkan, Amadeus kembali berjalan menuju gadis yang tengah meronta itu. Sesampainya di dekat anak buahnya yang pertama, ia mengangkat tongkat eboni yang ia bawa lalu memukul bahu pria itu. Pria itu meringis, padahal ia tidak merasa sakit akibat mantera Pemaksa yang Amadeus rapal untuknya. 
 "Enyahlah, dasar setan." perintah Amadeus dengan dramatis, memukul kedua pelayannya yang lain dengan kuat-kuat. "Patroli sedang ke sini, dan kalian akan segera dijebloskan ke Newgate."
Begitu mendengar kata Newgate, ketiga pelayan itu langsung menghentika serangan mereka lalu membalikkan badan dan terhuyung-huyung menyusuri jalan yang gelap.
Mungkin mata yang awas akan melihat betapa mudahnya mereka digertak oleh ancaman Amadeus, atau bahkan cara berjalan mereka yang sempoyongan saat mereka bergegas pergi, tapi untungnya gadis itu terlalu sibuk melilitkan syal ke tubuhnya untuk menutupi koyakan besar pada korset gaunnya.
"My Dear apa kau terluka?" tanya Amadeus dengan nada lembutyang sesuai dengan citra seorang pendeta sopan yang berniat baik. Ia memilih suara itu dengan berhati-hati sebagaimana dia merubah wujudnya menjadi seorang pria tua ramping yang rambut berubannya sudah hampir rontok semua dan memilliki wajah seorang pria yang mengabdi kepada kebaikan. Persis jenis pria yang akan dicari Miss Kingly saat berada dalam masalah.
Dan Miss Kingly akan segera berada dalam masalah besar.
"Tidak." Miss Kingly rambut gelap yang terlepas dari sanggul rapinya. "Aku tidak terluka." Diam-diam Amadeus memperhatikan suara mantap dan ketenangan Miss Kingly. Oh, ya , wanita itu memang pantas dijadikan objek eksperima.
Amadeus sudah tidak sabar untuk membawa Miss Kingly ke sarang ke sarang tersembunyinya dan memulai eksperimen, namun ketika Miss Kingly membalikkan badan, cahaya temaram dari bar di dekat situ membuat jimat keemasan yang menggantung di leher wanita itu mengilat. 
Napas Amadeus tertahan.
Walaupun hanya berupa bagian dari Medalion yang asli, Amadeus yakin jimat itu mengandung kekuatan yang lebih besar daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya. Laliu setelah utuh kembali, ia dan rekan-rekan pengkhianatnya akan memerintah para vampir. Mereka akhirnya akan tunduk pada kehendaknya.
 Sayangnya ia mendapati bahwa Medalion dilindungi oleh suatu mantera yang kuat. Artefak tersebut diikat ke jiwa si makhluk fana, menjadikan wanita itu kebal terhadap mantera Pemaksa dan mantera apapun yang bisa Amadeus gunakan. Maut pun tidak sanggup memisahkan Medalion dari gadis itu.
Satu-satunya harapan bagi Amadeus untuk mendapatkan artefak kuno tersebut adalah bila medalion diberikan kepadanya atas kehendak Miss Kingly.
Karena itulah ia terpaksa menyusun siasat konyol ini. Ia harus memenangi kepercayaan Miss Kingly dan entah bagaimana meyakinkan Miss Kingly bahwa wanita itu harus menyerahkan jimat itu kepadanya.
"Puji Tuhan." ucap Amadeus sembari tersenyum menenangkan kepada Miss Kingly. "Aku takut aku sudah terlambat." Terlepas dari sikap sopan Amadeus, sepertinya Miss Kingly secara naluriah merasakan bahaya yang mengancam di udara, dan ia mundur selangkah sambil berusaha untuk tampak berterimakasih atas keberanian yang Amadeus tunjukkan.
"Kau berani sekali."
Amadeus meletakkan tangannya di dada dengan gaya sopan. "Kau terlalu memuji, aku hanya melakukan yang dilakukan oleh pria mana pun yang berada dalam posisiku."
Miss Kingly menoleh ke arah sosok-sosok yang sempoyongan dan menghilang di gang dekat situ. "Sayangnya, tidak semua pria."
"Yah, mungkin kau benar," Amadeus membenarkan dengan penuh sesal. "Jalanan memang berbahaya bagi gadis muda yang sendirian. Boleh ku antar pulang?"
Secara tak terduga, Miss Kingly menegakkan bahunya. "Terima kasih tapi itu tidak perlu."
Amadeus tertegun. Walaupun ia menganggap keberanian Miss Kingly menarik, tidak akan membantu bagi rencananya kalau Miss Kingly semandiri itu. Dengan susah payah ia mengendalikan gejolak ketidak sabarannya. Ia Makhluk Abadi. Ia sudah belajar kalau kesabaran adalah sebuah kebajikan yang tidak boleh dianggap remeh. 
"Apa kau yakin?" bujuk Amadeus. "Mungkin aku berhasil menakut-nakuti berandalan itu untuk sementara, tapi tidak akan ada yang tahu kapan mereka kembali. Lagi pula, mereka, sayangnya bukan satu-satunya bajingan yang ingin menyakiti seorang gadis."
Miss Kingly memegangi syal yang dililitkan ke tubuhnya. "Tempat tinggalku tidak jauh."
"Tidak perlu jauh-jauh untuk terjerumus ke dalam bahaya di lingkungan seperti ini."
"Aku sudah biasa melewati jalan-jalan ini sendirian," sahut Miss Kingly, meskioun Amadeus melihat bagaimana pandangan gadis itu tertuju ke kegelapan yang sekarang sepi. 
"Ah, tapi malam ini itu tidak perlu. Aku bersikeras menawarkan lengan serta dampinganku. "Amadeus mengulurkan lengannya, tapi lagi-lagi Miss Kingly mundur menghindari sosoknya yang mendekat. Ia bertanya sejenak apakah entah bagaimana Medalion memberi Miss Kingly kemampuan untuk merasakan fakta bahwa ia bukan makhluk fana. Atau bahkan mungkin untuk merasakan niat busuknya. Itu komplikasi yang tidak berhasil memulihkan kesabarannya yang sudah hampir habis. 
"Kau baik seklai, Mr...?"
"Pendeta Fallow." Amadeus membungkuk rendah-rendah, berhati-hati untuk memastikan ekspresinya tetap tenang. Kalaupun merasakan sesuatu yang tidak wajar tentang dirinya, Miss Kingly tidak tahu menahu tentang maknanya. Atau bahaya yang mengancam di baliknya. "Dan aku?"
"Miss Kingly."
"Senang berkenalan denganmu."
"Denganmu juga, Sir. Tapi ada tugas yang harus kurampungkan malam ini, jadi permisi dulu."
Menyadari bahwa Miss Kingly akan terlepas dari genggamannya, Amadeus mencegat wanita itu dengan gesit. "Boleh kutawarkan bantuanku untuk merampungkan tugasmu itu?"
Di paksa berhenti Miss Kingly hampir tidak bisa menyembunyikan gejolak kesabarannya. "aku hanya ingin bicara dengan Molly."
"Molly?"
"Biasanya dia selalu bisa dijumpai di jalan ini."
Amadeus mengangkat sebelah tangannya ke dada lalu menggelengkan kepalanya dengan sendu. "Oh, My Dear."
Miss Kingly mengerutkan dahi melihat ekspresi sedih yang mendadak meliputi wajah Amadeus. "Ada apa?"
"Apa si Molly ini berambut merah dan wajahnya berbintik-bintik?"
"Apa kau melihatnya?"
"Sayangnya begitu."
Melupakan kejengkelannya kepada Amadeus. Miss Kingly tiba-tiba melangkah maju. "Ada apa?'
Amadeus berpura-pura mempertimbangkan masalah itu sebentar sebelum bicara. "Aku tidak tahu bagaimana aku harus menyampaikan kabar ini kepadamu, tapi dia ditemukan di gang di dekat sini setengah jam yang lalu."
Tangan Miss Kingly diangkat meraih Medalion yang tergantung pada rantai seperti mencari kekuatan. 
"Ditemukan? Apa maksudmu ditemukan?"
Amadeus mengingat sejenak kenikmatan yang ia rasakan saat menghisap daya kehidupan dari pelacur yang meronta ketakutan itu. Ia, melakukannya cepat-cepat, tanpa kepiawaian khasnya, tapi darah wanita itu masih mengalir deras di tubuhnya dengan kekuatan yang dahsyat. 
"Dia dibunuh," tukas Amadeus singkat.
Sesuai dugaan, mata Miss Kingly membelalak penuh kengerian dan kekagetan. Manusia bisa saling terikat dengan cara yang tidak masuk akal.

"Oh, Tuhan," engah Miss Kingly.
"Mengejutkan, aku tahu" Amadeus bersimpati.
"Apa kau yakin itu Molly?"
Amadeus menghela napas dalam-dalam. "Sayangnya, aku yang menemukan jasadnya."
Terjadi keheningan sejenak waktu Miss Kingly berusaha menerima berita buruk tentang temannya, kemudian tiba-tiba ia menegakkan bahu dengan ketabahan yang patut di puji. "Ke mana mereka membawanya?"
Lagi-lagi Miss kingly berhasil mengejutkan Amadeus dengan menunjukkan keberaniannya. Alis Amadeus terangkat karena kata-kata tegas gadis itu.
"Tidak, kau tidak boleh melihatnya."
"My Dear itu sama sekali tidak bijaksana."
Ekspresi Miss Kingly menegang penuh tekad. "Aku tidak memusingkan kebijaksanaan. Dia memang pelacur , tapi aku perduli kepadanya." Kesempatan itulah yang sedari tadi Amadeus nantikan. Ia akan menunjukkan betapa baik dan penuh belas kasihnya dirinya.
"Sikap yang terpuji My Dear, dan aku amat mengagumi kemurahan hatimu. Aku sendiri sudah berikrar untuk mengabdikan hidup untuk membantu orang-orang yang malang yang setiap malam berjuang demi mempertahankan hidup semata. Akan tetapi, keinginanku untuk mencegahmu menyusul anak malang itu berakar dari kesadaran bahwa kau pasti sangat terguncang akibat serangan yang mengerikan terhadapnya. Pembunuhnya sangat biadab."
Miss Kingky memucat begitu mendengar kata-kata lembut Amadeus, tangannya gemetar sewaktu memegangi syalnya. "Oh."
"Sebaiknya kau pulang."
Jelas terguncang karena akhir hidup Molly yang tak terduga, wanita tangguh itu menganggukkan kepala dengan berat hati. "Ya, mungkin kau benar."
Lagi-lagi Amadeus mengulurkan tangan. "Mari"
"Tidak, tidak, terima kasih," Miss Kingly tergagap-gagap, masih gelisah karena kehadiran Amadeus. "Aku lebih suka sendiri."
Naik darah, Amadeus maju selangkah, secara naluriah taringnya memanjang penuh antisipasi untuk membunuh. Ia akan memberi gadis menyebalkan itu pelajaran karena sudah berani menentangnya. Kemudian, dengan bersusah payah, ia memulihkan kembali ketenangannya.
Ia akan mendapatkan semuanya pada waktu yang tepat.
Sabar.
"Terserah kau saja." Amadeus membungkuk kaku. "Kuharap kau tidak akan segan-segan mencariku kalau membutuhkan bantuanku. Sampai jumpa dan selamat malam, My Dear."
"Selamat malam." Mengangguk linglung. Miss Kingly membalikkan badan dan segera menghilang di sudut.
Sendirian, Amadeus mengepalkan tangan saking frustasinya. Malam itu tidak berjalan sesuai yang ia harapkan. Miss Kingly tidak langsung mengangganya sebagai juru selamat, juga tidak menerima bantuannya dengan senang hati. Alih-alih wanita itu tetap bersikap waspada dan terlalu menjaga jarak. 
Tetapi, Amadeus tidak akan mengizinkan dirinya mendesak. Tidak seperti Tristan, yang selalu brutal dan impulsif, atau Drake, yang terlalu arogan, ia tahu ketajaman otaknyalah yang akan membuatnya berhasil.
Ia sudah menanam satu benih lagi malam ini. Nantinya benih yang ia tanam itu akan menarik Miss Kingly ke dalam pelukannya. Ia yakin itu.
Hingga saat itu tiba ia hanya akan menikmati kepuasan tak teringkari yang ia dapatkan dari berbagi ekspresinya.
***
Memperhatikan Miss Kingly meninggalkan vampir berbahaya itu dengan selamat, Lucien menyelipkan belati ke balik jasnya.
Sangat mengejutkan rasanya hampir berpapasan dengan dengan penghianat itu. Ketika secara impulsif ia memutuskan untuk mengikuti Miss Kingly menyusuri jalan-jalan yang gelap, Lucien lebih mencemaskan berbagai bahaya yang sudah biasa. Pencuri, pemerkosa, pembunuh. Melihat budak-budak yang dipengaruhi oleh mantera-mantera Pemaksa disusul oleh Amadeus, membuat darahnya dingin.
Mengintai cukup dekat untuk bergegas menghampiri gadis itu jika si vampir berusaha menyakitinya. Lucien tetap bersembunyi di balik bayangan guna mencari tahu apa sebenarya yang akan dilakukan oleh si penghianat. Terlepas dari kesembronoannya, Lucien tahu ia harus memahami secara pasti rencana Amadeus untuk mendapatkan Medalion.
Hanya butuh waktu beberapa detik bagi Lucien untuk menyadari bahwa si penghianat berniat memperdayai gadis itu dengan simpati yang dibuat-buat terhadap orang-orang malang yang tersebar di jalan-jalan St. Giles. Dan vahwa ia sanggup membunuh tanpa segan-segan demi mencapai tujuan.
Kesadaran tersebut membulatkan tekad Lucien.
Ia tidak akan membiarkan Miss Kingly disakiti. Untuk pertama kali dalam eksistensinya ia memiliki tanggung jawab yang sesungguhnya. Ia tidak akan gagal.
Menunggu hingga yakin gadis itu sedang menempuh perjalanan pulang, tanpa bersuara Lucien melangkah keluar dari balik bayangan dan menghadapi si vampir sambil tersenyum mengejek.
"Wah, wah, Amadeus," tukas Lucien. "Pintar sekali kau menyelamatkan Miss Kingly dengan segagah itu. Tapi toh, sejak dulu kau memang pintar. "Dengan satu gerakan tangan Amadeus membalikkan badan menghadap Lucien, kilat dingin melintas di mata pucatnya. 
"Ah, Lucien, akus udah menunggumu."
Lucien menyipitkan mata saking muaknya. Ia selalu memandang Amadeus sebagai pria congkak yang berselera humor buruk. Amadeus juga berwatak kejam dan senang membuat orang lain menderita. 
Sayangnya, Amadeus juga cerdik dan tenang. Dua kelebihan yang akan memastikan vampir itu tidak akan membuat kesalahan tolol.
Tetap waspada, Lucien bersandar ke bar yang sudah ditinggalkan lalu bersedekap.
"Molly yang malang, kurasa dia tidak pernah sadar kalau dia dijagal hanya supaya kau punya alasan untuk masuk ke kehidupan Miss Kingly?"
Bibir tipis itu melengkung mengulas senyum hambar. "Sejujurnya, dia tidak menunjukkan ketertarikan terhadap alasan dari penyiksaanya. Seperti kebanyakan manusia, sesuai dengan dia langsung menyerah kepada rasa ngerinya. Mereka sangat membosankan."
"Menurutku, itu kecenderungan yang sangat disayangkandari menjadi makhluk fana."
"Benar." Amadeus berpura-pura menghela napas sedih. "Dan karena dikejar waktu, aku terpaksa bertindak ceeroboh. Lehernya, sayangnya, cukup hancur dan kepalanya hampir putus."
Lucien tidak mau terpengaruh sampai menunjukkan rasa jijiknya. Ia yakin Amadeus sengaja berusaha untuk memancing responnya. 
"Aku bersimpati. Aku tahu bagaimana kau tidak menyukai pembunuhan yang berantakan."
Amadeus bergidik samar. "Memang. Tidak seperti Tristan dan Drake yang telah bergabung bersamaku dalam pertempuran untuk merebut Medalion, aku tidak mengizinkan rasa haus akan darah menjadikanku buas. Hasrat itu hanyalah alat untuk mencapai kekuatan yang lebih kuat."
"Pasti ada jalan yang lebih mudah bagi Molly." tukas Lucien.
Pendeta gadungan itu mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. " Pengorbanan harus dilakukan." 
"Mengapa?" desak Lucien.
"Apa?"
Dengan perlahan Lucien beranjak dari dinding. "Seperti yang kau bilang, kau tidak seperti Tristan dan Drake. Kau tidak pernah mempromosikan diri agar dipertimbangkan sebagai seorang Anggota Dewan Agung, atau mencari keistimewaan dengan modal kekuatanmu yang sudah tidak diragukan lagi. Kau seorang cendekiawan. Mengapa kau ke sini?"
Amadeus tersenyum dengan gaya mencemooh. "Aku pengejar pengetahuan, bukan cendekiawan," ralatnya. "Aku tidak membaca karya orang lain atau terus menerus memperdebatkan filosofi dengan orang-orang yang kalah pintar dariku. Aku mencari kebenaran dalam beraneka ragam bentuk. Kegiatan yang mustahil saat aku dipenjara di balik Tabir."
Keangkuhan sudah tidak mengejutkan lagi bagi mereka yang mengenal Amadeus. Ia jarang menutup-nutupi rasa unggulnya atas orang lain. 
"Kau menemukan kabenaran dengan membunuh makhluk fana?"
Kilat ganjil tiba-tiba melintas di mata pucat itu. "Sebenarnya kau yakin ada suatu kejernihan mengejutkan yang bisa ditemukan ketika kita dihadapkan engan ajal yang menjemput. Moment apa lagi yang menawarkan kesempatan selangka itu dalam mengesampingkan semua gangguan remeh agar seseorang bisa berkonsentrasi kepada makna kehidupan. Sebagai seorang Makhluk Abadi, aku tidak bisa mengalami moment pencerahan itu, maka aku mencarinya di antara manusia. Terlepas dari seluruh kelemahan mereka,mereka pasti memperoleh suatu pengetahuan pada napas penghabisan itu. Setelah eksperimenku dapat dilanjutkan, aku yakin seklai aku bisa menguak pencerahan yang paling menakjubkan. Aku hanya perlu menemukan makhluk fana yang tepat untuk risetku."
Ada nada berapi-api pada suara Amadeus yang membuat Lucien ngeri, tapi dengan teguh ia menjaga ekspresinya agar tetap tenang. Jelas vampir itu telah kehilangan seluruh akal sehat akibat rasa hausnya akan pengetahuan. 
"Sekarang kau sudah terbebas dari Tabir. Mengapa kau membutuhkan Medalion?"
Tiba-tiba senyum mencibir membuat wajah Amadeus berkerut. "Aku tidak senaif itu bahwa Nefri akan menoleransi studiku yang ganjil. Sepertimu, ia memiliki kegemaran yang tidak bisa dipahami trhadap makhluk fana. Dan, tentu saja, godaan dari kekuatan tidak bisa ditolak. Dengan Medalion aku bisa mengatasi batasan-batasan Dewan Agung yang kolot dan bebas memuaskan rasa hausku akan pengetahuan, ke manapun rasa haus itu membawaku."
Lucien menegakkan bahunya perlahan, ekspresinya tampak suram. "Sangat terpuji, tentu saja, tapi sayangnya tidak bisa ku biarkan kau mendapatkan Medalion." 
Amadeus tertawa nyaring begitu mendengar peringatan tegas Lucien. "Kau yakin kau bisa menghentikannku?"
"Kalau perlu."
"Berarti kita ditakdirkan untuk menjadi musuh" Amadeus membungkuk mencemooh. Semoga vampir yang terbaik menang. Adieu (selamat tinggal), Lucien."
 Dengan amat tenang Amadeus berbalik lalu menyusuri jalan yang gelap. Lucien mengelus belati di balik jasnya sebentar sebelum mengangkat bahu. Ia benar-benar berharap ia tidak perlu menghabisi Amadeus. Walaupun ia tidak menyukai Amadeus dan penyiksaan vampir itu terhadap manusia. Amadeus sudah seperti saudara baginya. Membinasakannya pasti mengerikan.
Menggelengkan kepala, Lucien mengusir pemikiran-pemikiran suramnya. Saai ini yang harus ia cemaskan adalah Mdalion dan Miss Kingly. Ia tidak boleh membiarkan perhatiannya terbagi. 
Dengan gerakan yang terlalu cepat bagi mata manusia, Lucien menghilang di balik bayangan lalu kembali ke rumah kecil yang sekarang menjadi rumahnya. Kegesitannya memastikan ia tiba di ambang pintu hanya beberapa saat setelah Miss Kingly, dan tanpa bersuara ia menyelinap di belakang wanita itu. Ketika ia menyentuh ringan bahu Miss Kingly, barulah gadis itu tersentak kaget lalu membalikkan badan dan memandangnya dengan mata terbelalak. 
"Oh, Mr. valin," engah Miss Kingly, tidak sepenuhnya berhasil menyembunyikan kelegaannya karena Lucien bukan penjahat yang berniat buruk. 
"Selamat malam, Miss Kingly, gumam Lucien lembut, pandangannya sengaja ditujukan ke kotoran yang menodai pipi Miss Kingly lalu diturunkan ke korset gaun wanita itu yang koyak. "Apa yang terjadi.?"
Miss Kingly terlambat berusaha menyembunyikan luka-lukanya dengan syal lusuhnya. "Ini bukan apa-apa."
Ekspresi Lucien menegang karena kata-kata tegas gadis itu. "Ini lebih dari bukan apa-apa."
Tanpa menunggu izin Miss Kingly, Lucien meraih siku gadis itu lalu dengan tegas membawanya ke ruang depan yang kecil. Miss Kingly berusaha memprotes, tapi jelas ia masih terlalu terguncang dengan kematian temannya sehingga tidak sanggup mengerahkan keberaniannya seperti biasa. 
"Apa yang kau lakukan?"
"Luka-lukamu harus dirawat, kalau tidak bisa infeksi," jawab Lucien, membawa Miss Kingly ke sebuah kursi lalu mendudukkannya di atas bantal tua. Lucien beranjak ke meja di dekat jendela. "Kau punya brendikan? Ah, ini dia." Mengambil botol brendi yang kecil, Lucien kembali menghampiri gadis yang linglung itu. Ia mgengambil sapu tangan dari balik jasnya dan menuang brendi ke linen bersih itu sebelum menyingkirkan syal Miss Kingly dengan lembut. 
"Ini tidak perlu," protes Miss Kingly begitu pipinya memanas. "Meg bisa membantuku."
 Lucien mengangkat kepalanya untuk membalas tatapan malu Miss Kingly. " Untuk apa mengganggu Meg kalau aku ada di sini.? Nah, jangan bergerak mungkin terasa perih." Ia menekankan saputangan ke luka goresan di bahu Miss Kingly, bibirnya menipis waktu gadis itu meringis kesakitan . Amadeus harus membayar karena sudah membuat Jocelyn Kingly terluka, janji Lucien dalam hati, dengan tekun membersihkan kotoran dari luka gadis itu.
"Oh," engah Miss Kingly sementara Lucien terus membersihkan lukanya. 
Lucien meringis penuh sesal. "Sayangnya aku tidak bisa mengurangi rasa sakitnya."
Miss Kingly menggertakkan gigi. "Tidak apa-apa seperti ini?" desak Lucien, berharap bisa mengalihkan perhatian Miss Kingly dari apa yang sedang ia kerjakan.
"Aku bertemu dengan beberapa berandalan."
"Ah. Tidak mengejutkan di lingkungan seperti ini. Kurasa aku hanya membuang-buang waktu tidak memperingatkanmu bahwa seorang gadis muda yang cantik seharusnya tidak berkeliaran di jalan selarut ini?" 
"Tebakanmu tepat," sahut Miss Kingly dengan nada ketus, pasti sudah diperingatkan tentang bahayanga.
"Setidaknya, seharusnya kau mengajak pendamping. Wanita yang sendirian jauh lebih mudah diserang."
"Aku tidak mau membahayakan siapa-siapa."
 Mata Lucien menatap mata Miss Kingly dengan tegas. "Kecuali dirimu sendiri.?"
Miss Kingly mengangkat salah satu bahunya, lalu meringis akibat gerakan tersebut. "Aku berhak membuat keputusan sendiri." 
Lucien tersenyum masam karena nada keras kepala Miss Kingly. Gadis itu tidak mudah dibujuk untuk menghentikan kebiasaannya yang nekad. Tidak kalau Miss Kingly yakin ia sedang menyelamatkan orang-orang malang di jalan. Dan karena tidak bisa mengungkapkan yang sebenarnya tentang bahaya yang mengancam Miss Kingly, Lucien terjebak dalam posisi sulit untuk entah bagaimana merayu gadis itu agar bersedia menerima bantuannya.
Tugas yang teramat berat.
"Tentu, My Dear," Lucien berusaha menenangkan sambil terus mengurus luka goresan yang dalam. "Seorang wanita mandiri sepertimu tidak perlu minta izin untuk pergi ke tempat yang dikehendaki."
Miss Kingly memandang Lucien dengan kecurigaan yang terang-terangan, seakan mengetahui niat busuknya. "Tepat."
"Namun seorang wanita yang bijaksana pasti lebih berhati-hati,kan?"
Wajah Miss Kingly langsung menegang karena kebenaran yang tak tergoyahkan pada tuduhan Lucien. "Apa kau sudah selesai?"
"Sebentar lagi." Dengan berhati-hati Lucien memilih kata-katanya, tahu bahwa satu langkah yang salah bisa memakan waktu berhari-hari, kalau bukan berminggu-minggu, untuk ditebus. "Apa kau sering keluar malam?"
"Ya."
"Kau menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan?"
"Kalau bisa." Mata indah itu menggelap. "Sayangnya aku tidak sanggup menolong mereka semua."
Tahu kalau Miss Kingly sedang memikirkan Molly yang baru saja tewas, Lucien tersenyum penuh simpati. "Tidak ada orang yang sanggup."
"Yah, kurasa begitu."
dengan perlahan Lucien menegakkan badan untuk memandang wajah pucat Miss Kingly, hatinya kembali tersentuh oleh kecantikan nan lembut gadis itu. Kecantikan yang tercermin dari kemurahan hati Jocelyn. 
 "Aku punya penawaran untukmu, Miss Kingly," ujar Lucien pelan.
Miss Kingly langsung menegang saking bingung dan waspadanya. "Apa?"
"Aku bersedia membayarmu.......katakanlah satu pound....... untuk setiap kesempatan yang kau berikan kepadaku untuk menemanimu melakukan kunjungan-kunjunganmu di jalan."
Terjadi keheningan sesaat sebelum Miss Kingly berdiri pelan-pelan. "Apa?"
"Aku yakin kau sudah mendengarku."
Tapi.... mengapa? Mengapa kau bersedia menawarkan uang sebesar itu untuk kerepotan dalam menemaniku sementara aku menemui para pencopet dan wanita-wanita hina?"
Bibir Lucien berkedut masam karena nada heran Miss Kingly.
"Kau bukan satu-satunya orang yang merasa tergerak untuk menolong mereka yang membutuhkan bantuan. Dan kebetulan aku yakin sekarang ini kau sedang sangat membutuhkan bantuan."
Tidak kuasa menahan diri, Lucien mengulurkan tangan untuk menyentuh lembut kulit pipi Jocelyn Kingly yang sempurna. Jarinya menggelenyar penuh kenikmatan sewaktu menelusuri kelembutan bak satin itu.
"Kau boleh memilih kepada siapa kau menawarkan bantuan, Miss Kingly. Tentunya aku juga boleh memilih."
Miss Kingly membiarkan sentuhan Lucien berlama-lama sebentar sebelum tiba-tiba ia menjauh. "Ini konyol"
"Aku menganggapmu gila."
"Mungkin." Lucien mengangkat bahu dengan acuh tak acuh, ,matanya berbinar karena rasa geli yang tidak bisa ditahan. Sudah pasti gadis itu bukan orang pertama yang mengatainya gila.
"Tapi apa itu penting? Kau akan menerima uangmu dan aku bisa tenang karena tahu kau aman."
Miss Kingly membuka mulut untuk memaki Lucien karena kekurangajaran pria itu, tapi meskipun harga dirinya memberontak karena makna tersirat Lucien bahwa ia tidak becus menjaga dirinya sendiri, akal sehat mulai ikut campur. Miss Kingly bimbang, menggigit bibir bawahnya sewaktu dipaksa mempertimbangkan tawaran lugas Lucien. "Satu pound semalam?" tanyanya dena suara parau.
"Ya"
"Hanya untuk menemaniku?"
Lucien terdiam, memutuskan untuk memanfaatkan kebimbangan sesaat Miss Kingly sepenuhnya. Ia bertekad untuk menyelamatkan gadis itu bukan hanya dari jalanan, tapi juga dari luka masa lalu.
"Ada satu syarat lagi."
"Apa itu?"
Senyum Lucien bertambah lebar ketika ia mendekat kepada tubuh lalu Miss Kingly. "Setiap malam kita juga mesti melakukan kegiatan yang.... tidak terlalu serius."
Ekspresi gusar meliputi wajah Jocelyn Kingly. "Seharusnya aku sudah tahu."
Tergelak karena reaksi Miss Kingly yang sesuai dugaan, dengan lembut Lucien meletakkan jarinya ke lengan wanita itu. "Tunggu sebentar. Yang kumaksud adalah kegiatan pengisi waktu yang tidak berbahaya seperti permainan cribbage atau backgammon."
Kegusaran sirna secara perlahan, digantika oleh kerutan samar. "Aku tidak tertarik dengan permainan konyol seperti itu."
"Jadi kau tidak mau menerima tawaranku?" goda Lucien. "Bahkan untuk membantu orang-orang yang katanya sangat kau pedulikan itu?" Tantangannta tak terbantahkan, dan lagi-lagi Jocelyn Kingly bimbang.
Satu pound mungkin tak berarti bagi Lucien, tapi bagi seorang wanita yang ada berada dalam posisi Miss Kingly,uang itu merupakan harta yang berharga. Dan walaupun tidak suka meraup keuntungan materi bagi dirinya sendiri, Jocelyn Kingly bertolak pinggang dan menghunjam Lucien dengan pelototan yang pasti membunuhnya bila ia bukan Makhluk Abadi.
"Baiklah. Kalau kau mau menghamburkan uang dengan sesantai itu, aku terima.  Tapi, kuperingatkan kau, jangan macam-macam. Kuharap kau ingat bahwa kau pria terhormat."
"Baik, My Dear." Menggamit tangan Miss Kingly, Lucien mengangkat jemari wanita itu untuk mengecupnya. "Kesepakatan kita sudah disegel." 


 kaito1412
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar